Oleh: Hamiruddin Udu
(Peserta PPNK Lemhanas Angk.223)
Indonesia adalah salah satu negara kepulauan yang terbesar di dunia. Letaknya yang strategis berada di antara dua benua dan dua samudera serta berada digaris khatulistiwa menjadikan Indonesia kaya akan sumber daya alam. Di samping itu, Indonesia merupakan pasar strategis bagi berbagai komoditas dunia. Anugrah dari Tuhan itu perlu dirawat dan dijaga dengan baik, bukan hanya menjadi tugas pemerintah dan TNI-Polri tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh rakyat Indonesia.
Untuk itu, kita butuh ketahanan nasional. Selama ini, kita mungkin membayangkan “Ketahanan Nasional” sebagai sesuatu yang abstrak, dibahas di ruang rapat ber-AC dan dokumen strategis militer. Namun, sebagai sebuah bangsa, mari kita berjalan-jalan sebentar, menjadi etnografer bagi negeri kita sendiri. Mari kita amati, dengarkan, dan rasakan denyut nadi ketahanan itu di tengah hingar-bingar kehidupan nyata.
Sebagai seorang etnografer—seorang pencatat budaya—saya melihat bahwa Ketahanan Nasional Indonesia yang sejati bukanlah sebuah konsep di atas kertas. Ia hidup dan bernafas dalam praktik keseharian kita, dalam “kebiasaan” yang sering kita anggap remeh, yang sesungguhnya adalah napas dari Pancasila.
Mari kita telusuri buktinya:
- Sila Pertama, Dari Ritual Keagamaan ke Pelindung Lingkungan
Di sebuah kampung di Wakatobi, penutur lisan menceritakan tentang “Buka-Tutup Karang” yang dikelola berdasarkan adat. Bagi mereka, karang adalah titipan sang Pencipta. Ritual adat sebelum mengambil hasil laut di karang bukan sekadar upacara; itu adalah sistem manajemen sumber daya alam yang canggih, yang mencegah eksploitasi berlebihan. Di Yogyakarta, Komunitas Lintas Agama secara rutin bergiliran mengamankan pos ronda saat perayaan Natal dan Idul Fitri. Inilah etnografi toleransi, ketahanan bukan pada pidato, tapi pada tindakan saling menjaga yang telah membudaya. Ketahanan lingkungan dan sosial lahir dari keyakinan yang dihidupi, bukan hanya diyakini.
- Sila Kedua, Pasar Tradisional sebagai Ruang Kemanusiaan
Datanglah ke Pasar Mandonga atau Pasar Andonohu. Di sana, dalam kesemrawutan yang indah, terjadi praktik “ngalap berkah” — seorang pedagang senior memberi pinjaman modal tanpa bunga kepada pedagang baru yang sedang kesulitan. Itu bukan sekadar transaksi, itu adalah jaring pengaman sosial yang dibangun atas dasar kepercayaan dan rasa kemanusiaan. Sebaliknya, etnografi korupsi menunjukkan bagaimana praktik “uang panas” dan “komisi” di proyek-proyek besar telah merusak jaring pengaman ini, menggerogoti rasa percaya, dan pada akhirnya, melukai ketahanan ekonomi kita dari akarnya.
- Sila Ketiga, “Sinoman” dan “Gotong Royong” sebagai Tulang Punggung Persatuan
Di Jawa, ada tradisi “Sinoman”, di mana para pemuda berkumpul untuk mempersiapkan hajatan warga. Di Minang, ada “Basosok Balimo”. Di Bali, ada “Ngaben” yang melibatkan seluruh banjar. Inilah etnografi persatuan dalam aksi. Mereka yang berkumpul mungkin berbeda pilihan politik, bahkan pernah berselisih. Tapi dalam ruang gotong royong itu, mereka adalah satu tubuh. Mereka membangun ketahanan komunitas dengan tangan mereka sendiri. Bandingkan dengan etnografi media sosial kita, ruang yang seharusnya mempersatukan, justru sering menjadi panggung untuk “war” yang memecah belah, mengikis rasa persatuan yang telah dibangun secara turun-temurun.
- Sila Keempat, “Rembug Warga” sebagai Lembaga Musyawarah
Dalam etnografi demokrasi desa, “rembug warga” di balai desa adalah ruang di mana setiap orang, tua-muda, laki-perempuan, boleh angkat bicara. Keputusan tidak selalu harus bulat, tetapi proses mendengarkan adalah yang utama. Contoh lain seorang “Mamak” di Minangkabau memimpin kaumnya bukan dengan perintah, tapi dengan musyawarah untuk mufakat. Inilah bentuk asli dari kedaulatan rakyat. Praktik inilah yang seharusnya menjadi DNA para wakil rakyat kita di Senayan. Ketika mereka menutup telinga dari “rembug rakyat” dan hanya mendengar bisikan para “penyandang dana”, mereka telah mengkhianati etnografi kebijaksanaan nenek moyang mereka sendiri.
- Sila Kelima, “Arisan” dan “Ibu-Ibu PKK” sebagai Penjaga Keadilan Sosial
Arisan di RT bukan sekadar undian berhadiah. Ia adalah sistem ekonomi mikro yang adil. Ibu-ibu yang dapat giliran, bisa membayar utang, membiayai anak sekolah, atau berobat. Ibu-Ibu PKK yang mengatur “Warung Hidup” di pekarangan, adalah upaya mandiri menciptakan ketahanan pangan keluarga. Inilah etnografi keadilan sosial yang hidup. Mereka menciptakan sistem yang inklusif dan saling menguatkan. Ini adalah tameng terdepan melawan gempuran ekonomi global yang tidak adil. Ketika negara absen, merekalah yang membangun ketahanan dari bawah.
Dari perjalanan singkat ini, kita melihat dengan jelas Pancasila dan Ketahanan Nasional itu sudah “Built-in” dalam budaya kita. Ia ada dalam DNA sosial kita sebagai bangsa. Masalahnya, kita sering lupa, mengabaikan, atau bahkan dikalahkan oleh nilai-nilai individualistik yang merongrong kearifan lokal kita. Untuk itu, kepada kita semua (rakyat), ayo jadi etnografer aktif bagi komunitasmu! Pulihkan dan lestarikan praktik-praktik budaya yang sudah mencerminkan Pancasila.
Kembali ke “gotong royong”, hidupkan “rembug warga”, kuatkan “jaring sosial” di lingkunganmu. Jangan biarkan nilai-nilai luhur itu punah, dan kepada para pemimpin, ayo jadilah pemimpin yang “melek etnografi”! Jangan hanya melihat angka pertumbuhan ekonomi, tapi selamilah kearifan lokal yang sudah membangun ketahanan selama ini. Kebijakan yang baik adalah yang memperkuat, bukan melemahkan, jaring pengaman sosial dan budaya yang sudah ada. Dengarkan suara dari “balai desa”, bukan hanya dari lobby hotel berbintang.
Ketahanan Nasional yang hakiki tidak hanya terletak pada kekuatan ekonomi, tidak hanya terletak pada kekuatan militer tetapi terletak pula pada kemampuan kita untuk merawat, menghidupi, dan membangun kembali seluruh praktik budaya yang telah membentuk kita sebagai bangsa yang berjiwa Pancasila. Ia ada di warung kopi, di pasar, di sawah, dan di pertemuan RT. Mari jaga denyut nadi itu, karena di sanalah jantung Indonesia yang sesungguhnya berdetak. Ayo semua bergerak untuk Indonesia Tangguh, Indonesia Hebat!








