Merawat Identitas Tolaki, Dikbud Konawe Gelar Sekolah Kader Kalosara

Konawe, Sultrademo.co Upaya melestarikan nilai-nilai luhur budaya lokal di tengah arus modernisasi terus digencarkan oleh Pemerintah Kabupaten Konawe. Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud), pemerintah daerah kembali menggelar Sekolah Kader Kalosara Tahun 2025 sebagai langkah strategis menjaga keberlanjutan filosofi Kalosara yang menjadi identitas masyarakat Tolaki.

Kegiatan yang memasuki tahun kedua penyelenggaraan ini dibuka di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Konawe, Selasa (9/12/2025).

Bacaan Lainnya
 

Kepala Bidang Kebudayaan Dikbud Konawe, Andang Masnur, yang mewakili Kepala Dinas, menjelaskan bahwa program ini merupakan agenda tahunan yang dirintis sejak kerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX Makassar. Tahun ini, sebanyak 50 siswa dari berbagai kecamatan dan latar belakang dilibatkan untuk belajar langsung dari para maestro dan tokoh adat.

Dalam sambutannya, Andang menekankan bahwa pemahaman terhadap Kalosara dan Mepesara (adat istiadat) sangat vital bagi generasi muda. Ia mengingatkan, jauh sebelum hukum positif modern diterapkan, masyarakat Tolaki telah memiliki sistem adat yang kokoh untuk menyelesaikan konflik dan menjaga tatanan sosial.

”Kalosara bukan sekadar simbol, tetapi mekanisme adat yang teruji dalam menjaga keseimbangan dan harmoni masyarakat. Karena itu, edukasi mengenai kesakralan, kedudukan, dan fungsinya harus terus diwariskan,” ujar Andang.

Menariknya, sasaran edukasi ini bersifat inklusif. Andang menegaskan bahwa pembelajaran tidak hanya ditujukan bagi siswa keturunan Tolaki, tetapi juga peserta dari etnis lain. Hal ini bertujuan membangun pemahaman lintas budaya dan saling menghargai di tengah masyarakat yang majemuk.

Pentingnya regenerasi pelestari budaya ini sejalan dengan pengakuan negara terhadap tradisi Tolaki. Kalosara telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Nasional sejak tahun 2011. Teranyar, pada tahun 2024, prosesi adat pernikahan Mopindaako juga resmi diakui sebagai WBTb Nasional.

Selama pelatihan, para peserta mendapatkan materi komprehensif mulai dari sejarah, makna filosofis, etika adat, hingga tata cara pelaksanaan upacara. Metode pembelajaran dirancang dialogis dengan menghadirkan narasumber dari kalangan budayawan, akademisi, dan praktisi adat.

Pemerintah berharap, melalui Sekolah Kader Kalosara ini, akan lahir agen-agen kebudayaan muda yang kompeten dan berintegritas. Mereka diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam merawat warisan leluhur agar tetap relevan dan hidup di tengah perubahan zaman.

Laporan: Muhammad Sulhijah

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait