MoU Sudah Diwujudkan Satu Persatu, Begini Klarifikasi PT GMS

Konawe Selatan, Sultrademo.co– PT. Gerbang Multi Sejahterah (GMS) yang beroperasi di Kecamatan Laonti hingga kini terus melangkah bersama masyarakat termaksud didalamnya mewujudkan kewajiban sosial perusahaan yang juga tertuang dalam Memorandum Of Undarsatanding (MoU).

Perihal adanya segelintir orang yang menyoal MoU, HRD PT GMS, Hikalton yang juga warga asli Laonti mengaku pihaknya telah berkomitmen mewujudkan satu persatu MoU. Katanya, publik perlu tahu bahwa PT. GMS ini sudah dua kali beroperasi di wilayah Laonti dengan manajemen yang berbeda.

Bacaan Lainnya

“Dimasa kami sekarang yang sebagai pribumi Laonti asli Hikalto (cucu dari Kepala Kampung Wia) meninjau isi MoU yang dijadikan dasar dan menemukan adanya keganjalan isi MoU yaitu, tidak adanya pemaknaan bahasa dan atau mencantumkan mana yang di maksud wilayah lingkar tambang dan mana yang dimaksud wilayah IUP,”katanya.

Sehingga, tambahnya, pada waktu pertama PT. GMS melakukan kegiatan hanya fokus pada wilayah lingkar saja.

Sementara untuk PT. GMS yang manajemen saat ini telah
menjalankan program dan janji-janji manajemen GMS pertama yang tidak terealisasi sebelumnya.

Antara lain, renovasi rumah ibadah, pengadaan ambulance laut, pengadaan bus sekolah, pembangunan asrama mahasiswa Laonti di Kota Kendari, penyaluran dana kompensasi kurang lebih 800 Kepala Keluarga (KK) di 4 Desa dan ditambah 5 Desa kepala keluarga (KK) yg berada di wilayah IUP dan penyerapan tenaga kerja lokal.

“Rencananya kalau disepakati pengadaan alat tangkap ikan bagi nelayan, dan masih banyak kekeliruan yang tertuang dalam MoU itu, namun pihak kami perusahaan, apalagi ada saya selaku pribumi asli Laonti, cukup menyesuaikan selagi itu tidak bertantangan dengan UU,”ujarnya.

Perihal dampak dan lingkungan, PT GMS yang sekarang adalah melanjutkan dan memperbaiki pekerjaan yang tertinggal GMS sebelumnya.

“Melanjutkan pekerjaan dalam hal ini memperbaiki bukan hal yang gampang dan butuh waktu, apalagi kami beroperasi baru belum cukup satu tahun. Sebagaimana yang diungkapkan para narasumber di beberapa awak media terkait dampak dan pencemaran lingkungan, saya rasa ini perlu dikaji, karna kenapa, untuk menjastice atau mengatakan pencemaran itu harus ahlinya melalui uji leb, dan sebagimana foto-foto yang beredar tentang keruhnya air itu bukan di wilayah tempat memancing, namun di wilayah Jetty site PT. Gms dan tidak melebar ke tempat pemancingan para nelayan,”sahutnya menjawab opini media.

Justru, tambah Hikalton, ketika air keruh, banyak pemancingan yang datang mencari ikan lajur di depan Jetty GMS. Jetty GMS adalah terminal khusus (tersus) dimana regulasinya diatur oleh pemilik pelabuhan dalam hal ini PT. GMS.

“Apabila ada poto atau video tentang air keruh melebar, publik perlu liat keasliannya, karna bisa jadi video editan ( hanya ambil gambar di tempat keruhnya saja) dan foto-foto selain dari editannya kita juga mau kroscek, kapan/tanggal/bulan dan tahun pengambilan gambarnya,”tambahnya.

Terakhir, Hikalton juga menanggapi tuntutan permintaan masyarakat yang berujung demonstrasi.

Kata dia, aejauh ini pihaknya masih fokus meralisasikan apa yang tertuang dalam MOU. Mengenai ketenangan kerjaan semua sudah dalam proses perekrutan

“Justru kami merasa heran bahwa kami selaku asli pribumi dan selaku karyawan merasa terancam akibat orang-orang diluar sana, mengatas namakan nasyarakat Laonti yang notabene masyarakat Laonti mana,”tutupnya.

Pos terkait