OPINI : Membunuh Bibit Premanisme Di Lingkungan Sekolah

Oleh: Laode Abd. Alim R. Ishak (Pendiri Rumah Pintar Muna, Sultra)

Sebagai prolog, tulisan ini mulai dengan pengalaman seorang teman saat mengantar sang buah hati ke sekolah. Seperti biasa, rutinitas teman pagi itu mengantar anak ke sekolah. Dikejauhan, terlihat dua orang siswa mendekati si buah hati dengan gelagat seperti meminta uang. Entah apa komunikasinya, tapi terlihat si anak yang baru kelas 3 Sekolah Dasar (SD) memerlihatkan kantong bajunya. Tidak puas dan ingin lebih memastikan, akhirnya muncul inisiatif si teman bertanya langsung pada sang anak. Ternyata benar, dia dimintai uang oleh dua orang siswa kelas 6.

Bagi sebagian besar orang, kisah ini mungkin akan dianggap biasa, hingga terkadang sekolah juga luput memerhatikan fenomena mengkhawatirkan tersebut. Padahal, bila terus dibiarkan perilaku tidak terpuji itu kelak menumbuhkan bibit-bibit premanisme dalam jiwa seorang anak. Secara sarkastis, andai sekolah kurang peduli, maka perlahan fungsi sekolah akan berubah dari lembaga pendidikan menjadi ‘pabrikpreman’.

Bacaan Lainnya
 

Sesungguhnya peringatan ini bukannya tanpa alasan. Berdasarkan data Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), terdapat 16 kasus perundungan yang terjadi di lingkungan sekolah pada periode Januari hingga Agustus 2023. Adapun kasus perundungan dilingkungan sekolah paling banyak terjadi di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan proporsi 25% dari total kasus. Selain itu, ramainya pemberitaan aksi-aksi perundungan di lingkungan sekolah, seolah semakin menguatkan hal tersebut.

Betapa tidak, ibarat api yang tiba-tiba muncul dari tumpukan sekam, pihak-pihak terkait terhenyak atau baru tersadar setelah muncul video viral tentang aksi perundungan yang tak jarang berujung pada hilangnya nyawa seorang siswa. Padahal bila sekolah mampu mendeteksi lebih awal, sebelum perundungan terjadi sebenarnya sudah muncul gelagat-gelagat yang bisa disebut gejala. Lalu, bagaimana untuk mendeteksinya?Serta bagaimana cara penangananya?

Sebagai orang yang pernah mengenyam pendidikan dibangku sekolah, tentu semua masih bisa membayangkan siapa di antara teman sekelas dulu yang nakal ataupun bandel. Biasanya, mereka sangat terkenal di kalangan guru. Sayangnya, seringkali guru atau pihak sekolah terkesan kurang peduli dengan siswa-siswa yang nakal tersebut. Padahal seharusnya, mereka diberi perhatian dan perlakuan khusus.

Tapi bukan berarti diistimewakan. Perhatian di maksud adalah guru khususnya wali kelas proaktif mencari sebab kenakalan sang siswa. Oleh karena biasanya, siswa yang nakal pasti memiliki masalah entah di lingkungan keluarga ataupun sesama teman. Sebab tak ada tempat curhat bahkan kurang diperhatikan, akibatnya ia berprilaku nakal demi mendapat perhatian. Pada saat inilah seorang guru dituntut mampu bertindak sebagai teman atau sahabat. Bangun komunikasi secara perlahan-lahan sampai sanganak mau terbuka dan menceritakan masalahnya. Kalaupun tidak mau terbuka, guru bisa mencoba berkomunikasi dengan orangtuanya.

Sebagai rujukan, guru bisa menonton film Bollywood berjudul “Taare Zameen Par” yang diperankan aktor Aamir Khan. Dalam film tersebut, seorang guru bernama Ram Shankar Nikumbh (Aamir Khan) menaruh perhatian khusus kepada salah satu siswa bernama Ishaan Nandkishore Awasthi. Ishaan tumbuh menjadi siswa yang nakal, suka bolos, tidak suka memerhatikan pelajaran, hingga nilai akademiknya selalu buruk atau rendah. Baik orang tua atau guru di sekolah, selalu memperlakukan Ishaan dengan kasar karena dianggap bodoh dan nakal. Sampai akhirnya, Ishaan dimasukkan kesekolah asrama.

Tapi bukannya membaik, nilai akademik Ishaan justru kian buruk. Bahkan semakin memprihatinkan karena Ishaan berubah menjadi pribadi pendiam. Hingga akhirnya Ram Shankar Nikumbh masuk mengajar menggantikan salah seorang guru. Melihat prilaku Ishaan, Nikumbh fokus mencari penyebabnya. Bahkan demi perubahan karakter Ishaan, Nikumbh rela menempuh perjalanan jauh untuk bertemu kedua orang tua Ishaan. Sesampai disana, Nikumbh kemudian tahu bila dirumah sang ayah kerap memarahi dan membanding-bandingkannya dengan kakaknya yang cerdas secara akademik. Saat itu pula, Nikumbh tahu kalau Ishaan memilki bakat seorang pelukis, setelah melihat sejumlah lukisan Ishaan.

Ternyata, Ishaan menderita disleksia, yakni gangguan pada penglihatan dan pendengaran yang disebabkan oleh kelainan saraf pada otak sehingga anak kesulitan membaca. Mulai saat itu, Nikumbh memberi perhatian dan perlakuan khusus pada Ishaan. Mengajarkannya membaca dan berhitung. Sungguh, kedekatan antara guru dan murid yang ditunjukkan melebihi orang tua terhadap anaknya. Di akhir kisah, Nikumbh menyelenggarakan perlombaan melukis untuk seluruh siswa dan guru di sekolah. Pada even tersebut, Ishaan berhasil menjadi juara dan lukisannya dijadikan cover buku salah satu mata pelajaran di sekolah. Mulai saat itu, prestasi akademik Ishaan berubah cemerlang dan ia juga tumbuh menjadi pribadi periang serta berprilaku baik.

Dari film tersebut para guru bisa mengambil hikmah, bahwa tidak ada murid bodoh, melainkan setiap murid memiliki kecerdasan pada bidang-bidang tertentu. Tugas guru adalah membantu sang murid menemukan dan mengembangkan bakat sesuai tipe kecerdasannya. Bila ini tidak mampu dilakukan, maka perlahan simurid akan berubah menjadi pribadi yang nakal dan suka bolos. Semakin guru tidak menyadari dan segera melakukan tindakan penanganan, bibit-bibit premanisme kian tumbuh subur dalam diri seorang siswa.

Melalui film itu juga para orang tua bisa belajar, bahwa senakal dan seburuk apapun nilai akademik anak, jangan pernah menanganinya dengan kasar apalagi sampai membanding-bandingkannya baik dengan saudara ataupun orang lain. Begitupun bila si anak diberi hukuman oleh guru di sekolah akibat perilakunya, orang tua jangan terburu emosi bahkan sampai melaporkan guru ke polisi. Ajak sang guru berkomunikasi demi mencari solusi untuk perubahan karakter sang anak menjadi lebih baik.

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait