Oleh : Azhari*

Setahun sudah, peristiwa kelam itu. Setahun sudah harap versus perlindungan berkelindan. Saya memandang fotonya, membaca beritanya, merasai aneka videonya di medsos. saya pun turut perih menyaksikan peristiwamu kala itu.

Bagaimanapun, saya juga telah cukup lama, menjadi bapak dari pemuda-pemuda seperti kalian. Saya tahu bagaimana gelora semangat kalian. Saya paham bagaimana darah mudah kalian yang kadang memberondong, bahkan kepada kami bapak-bapak kalianpun, juga tak luput merasakan semburan hawa semangat muda kalian.

sultrademo

Seiring waktu yang cukup panjang, saya belajar. Sesungguhnya yang kalian inginkan itu, hanya keterbukaan, kejujuran dan ketulusan. Juga tak kalah pentingnya kesabaran dalam mengurai semua apa yang kalian pertanyakan. Satu dua, bisa saja membawa pesan dari luar, melalui diskusi, yang halus mempengaruhi jiwa muda kalian. Tapi sekali lagi, jawabnya cukup dengan jujur, terbuka, dan sabar mendengar, cercaan tanya, tatap kalian, bahkan terkadang teriakan kalian yang memekakan telinga. Juga sabar dan tenang memandang tingkah kalian yang kadang satu dua sudah melupakan adab. Membuat darahpun kadang hendak berhenti.

Ya. Anak anak pergerakan. Bangsa ini perlu kalian. Sungguh bangsa besar ini, perlu kalian. Untuk bertumbuh dewasa selayaknya kalian menuju kematangan.

Tapi haruskah selalunya ada korban. Setiap yang bernyawa pasti akan menemukan mautnya. Tapi mesti kah melalui api pergerakan, jalannya pun jua, apa mesti harus melalui tangan-tangan saudaramu yang seharusnya melindungi kalian. Sebagai bapak dari sedikit pemuda-pemuda seperti kalian, juga sebagai ayah yang putra-putranya sedang bertumbuh menuju seperti kalian. Jelas tak kan rela itu terjadi. Tidak juga bapak-bapak yang berdiri gagah menghalau kalian. Karena mereka juga punya anak, yang mungkin sahabat kalian.

Randi dan Yusuf. Pahlawan pergerakan, tentang kisah mempertahankan marwah KPK, tentang kisah menolak RUU HIP dan RUU yg banyak mengundang tanya lainnya.

Tapi tentangmu, ini adalah kisah baru. Kisah tentang martir pergerakan. Yang gugur di pelosok nun jauh dari pusat kuasa negeri. Saat bersama menyuarakan tentang isu-isu kebijakan, yang dibuat oleh mereka nun jauh di pusat sana. Sebelumnya, kisah yang demikian selalunya membahana di pusat kuasa. Bukan di pinggiran seperti kita. Riak berderak di pusat kuasa, di pinggiran turut solider, tetapi bila sampai terjadi sepertimu, itu hal baru. Setidaknya saking jarangnya hingga saya tidak sempat mengingatnya lagi.

Adalah solidaritas isu tentang berbagai kebijakan pusat, berakhir dengan tragedimu. Lalu memantik rasa perih, terabaikan dan merasa tak dipentingkan. Lalu arah telunjuk dan kata itu, mengarah langsung ke korps Polda Sultra. Sebagai institusi yang harus memproses peristiwa itu.

Personil polda sebagai pihak yg bertanggungjawab atas martirnya engkau. Diterpa galau, tentang resiko dalam tugas profesi versus tanggungjawab utk menuntaskan kasus ini. Adalah manusiawi juga bagi mereka mencoba melindungi kawan se-korps. Karena tak satupun diantara mereka jua, yang bila ditanya sudi menjadi wakil malaikat maut menghadapi kaum muda pergerakan. Bahwa ada lalai, iya betul. Bahwa hukum harus ditegakan ya sepakat. Tapi dalam tataran rasa, itu cukup berat.

Dalam gerak kaum muda, keras dan terkadang beringas itu fakta. Bila polisi tak mampu menghadang dan meneduhkan, hingga timbul kerusakan barang publik yang masif, maka polisi pun menjadi tumpuan cemooh bahkan caci. Tapi bila jiwa kemanusian mereka yang juga punya marah terpantik dan sesaat diluar kendali, maka merekapun akan di hujat bersama sama.

Ya, sesekali kita coba menimbang rasa diantara kita. Bahwa ada polisi yang terkadang kelewat batas dalam tugasnya. Maka itu tidak pada polisi saja, kepada profesi lain juga itu banyak terjadi. Ya oknum seperti ini, dimana-mana profesi ada dan kita sepakat agar dibasmi saja.

Randi-Yusuf, duka kita. Ada banyak rentetan korban selanjutnya. Di pihak pergerakan ada banyak. Di pihak polda juga sudah cukup banyak. Ada kapolda saat itu yang humanis dan selalu bersahabat dengan siapapun. Dimutasi, lalu tak terdengar hingga kini karier lanjutnya. Salahnya karena dia tidak bisa menahan terjadinya peristiwa itu. Lalu ada dir reskrim yang juga tenggelam beritanya. Ada dir pol air yang saya kenal selalu bersahabat, jadi korban lemparan batu, hingga meretakan tulang hidungnya, hingga kini dia tak terdengar lagi beritanya. Beberapa personel polisi juga, turut jadi korban. Apa salah mereka, apa mereka yg merancang berbagai UU kontroversi itu? Jelas tidak.

Kaum pergerakan yang ingin mengubah dan mendobrak ketidakrasionalan publik, melalui parlemen jalanan, membawa misi suci. Misi yang sama yg didengungkan ditahun 98 hingga salah satu tuntutan yg disuarakan, dipisahnya kembali Polri dari TNI. Kemandirian Polri saat ini, sebagai satu institusi publik vital, merupakan salah satu hasil pergerakan kaum muda di tahun 98.

Lalu Polri yang kemudian menjadi ujung tombak kamtibmas, mau tidak mau harus berhadapan dengan kaum pergerakan di lapangan demi melindungi kepentingan publik. Dua arus yang terpaksa dihadap-hadapkan, di panas terik, hujan, diselingi asap bakaran ban, asap dentuman peluru gas air mata, bahkan peluru karet. Ini bukan sesama musuh, yang sedang berlaga. Ini dua kutub visi yang berbeda. Yang satu mendobrak kejumudan subyektifitas pribadi oknum kelompok kepentingan yang ingin membawa kepentingannya pada area publik, sementara yang lain, diperintahkan UU menjaga kambtibmas. Gesekan akan selalu ada. Karena dua misi besar yang berbeda tadi. Jembatan penghubungnya hanyalah kearifan.

Baca Juga :  Wali Kota Kendari Tandatangani KUA PPAS APBD 2021

Kepemimpinan jenderal lapangan pergerakan, dan kematangan komandan pengendali lapangan dipihak lain. Bila keduanya bertemu. Maka benturan keduanya bisa dihindari. Tetapi bila keduanya dikuasai ego, sesaat saja. Maka kita akan selalu menyaksikan benturan dan korban.

Korban yang tidak perlu pun jatuh, teranyar kemarin, dua buruh dan sederet aktivis muda jadi korban lanjutan, pelampiasan jiwa marah para oknum yang seharusnya tak perlu terjadi. Tapi lagi-lagi, dalam korps polisi itu juga, banyak yang muda. Yang masih kadang susah mengendalikan diri. Ya, menjadi polisi dengan pendidikan dasar rerata beberapa bulan, selanjutnya dilepas di medan tugas jelas kita akan banyak menemukan, adanya ketidakmatangan jiwa diantara mereka disana sini. Itu fakta.

Sementara kedua-dua pihak ini, sangat dibutuhkan oleh negara bangsa yang besar ini. Hadirnya polisi profesional adalah sebuah keniscayaan dalam sebuah negara. Tetapi negara berkembang tanpa kaum pergerakan yang idealis, yang masih berani dan konsisten menyuarakan kebenaran publik, adalah juga harapan utama terhindarnya negara kita dari, oligarki dan rezim otoriter. Bangsa ini berkali selamat dari peluang menjadi negara bangsa yang otoriter karena pergerakan kaum muda, melalui parlemen jalanan disaat parlemen sungguhan telah menjadi “Pak Beo”.

Kini kita menuai kalut. Kalut yanh terjadi di daerah kita. Perjuangan yang tadinya untuk solidaritas atas isu nasional, berubah bentuk menjadi solidaritas kawan pergerakan menuntut polda untuk menyeret personnya kemeja hukum yang menjadi pelaku atas tragedi itu. Disisi lain, pimpinan polda juga mesti, menjaga rasa solidaritas korps di bawahnya. Karena bila person dianggap diabaikan, dipasang sebagai tameng lalu bila terjadi masalah, semudah itu dihukum dan apalagi dirasa tak adil, maka pastinya akan muncul ke engganan dari person lain untuk bekerja maksimal saat terjadinya peristiwa yang sama. Efek itu berbahaya ditubuh organisasi yang jiwa korsa itu sangat diperlukan hadirnya.

Disisi lain, bila ini tidak segera disahuti, dipastikan semangat solidaritas pergerakan, tak akan mudah padam untuk selalu menggelora. Selanjutnya kita akan saksikan pergerakan jilid-jilid berikutnya. Lalu kita akan selalu membaca berita korban-korban berikutnya. Korban pada kaum muda pergerakan, korban pada aparat, korban fasilitas umum, korban masyarakat seperti hari kemarin. Haruskah ini begitu terus.

Pelik, sepelik pikiran pimpinan Polda Sultra saat ini, juga Bapak Kapolri menimbang rasa. Sebab bagaimanapun juga. Keduanya adalah putra kelahiran Sultra. Bagaimanapun juga seharusnya keberadaan mereka saat ini adalah kebanggaan bagi kita warga Sultra. Tetapi mereka mesti menghadapi situasi ini, hingga sentuhan positif mereka untuk daerah ini, menjadi terabaikan.

Saya menyarankan. Pak Kapolda, mari bicara dari hati kehati dengan adik-adik pergerakan ini. Mari duduk bersama, memang terkadang berat menerima kata-kata penghakiman dari adik-adik yang bahkan sebaya putra kita. Terkadang jantung pun bergemuruh menahan rasa yang dirasa tak sepantasnya diterima. Jangankan bapak, kamipun bapak-bapak mereka di kampus terkadang tak mampu bersabar mendengarkan mereka yang semuanya berlomba untuk menyuarakan pikirannya. Tapi terpulang pada rasa maklum. Bahwa kita juga pernah muda seperti mereka, masa pencarian jati diri. Masa yang kadang pikiran jernih banyak mengalah dari rasa bisa. Ya seperti itulah juga putra-putra kita seusia mereka di rumah.

Tapi manakala kita sabar mendengarkan keluh kesah mereka, kita sabar mendengarkan hujaman kata-kata mereka yang terkadang bak lemparan anak panah ke ulu hati, kita sabar melihat tingkah mereka yang kadang terlihat kurang sopan saat menyuarakan tuntutannya yang berbalut emosi. Lalu pelan kita urai jawaban kita, dengan tulus, jernih dan lugas. Pada akhirnya mereka akan mendengar.

Ya, cobalah pak. Kutau ini berat, tapi pasti akan bisa diatasi. Agar korban korban selanjutnya tidak lagi perlu ada. Mesti ada kebijaksanaan khusus, untuk person yang terlibat, tanpa harus mengurangi nilai penegakan hukum yang mesti mereka jalani. Ini antara solidaritas vs jiwa korsa, menuju penegakan hukum yang berkeadilan. Didalamnya ada proses kebijaksanaan.

Penulis adalah: Rektor USN Kolaka, sejak 2005 – sekarang.

Komentar