Renungan Ramadhan 1443 H : Perjanjian Dengan Allah

Oleh: Makmur Ibnu Hadjar

Kehadiran kita dalam kehidupan dimuka bumi ini, sesungguhnya terikat oleh suatu perjanjian dengan ALLAH Subhana Wata’ala. Oleh karena itu, sejatinya bahwa agama itu adalah perjanjian, yang dalam bahasa Arab disebut MITSAQ atau AHDUN, suatu perjanjian suci antara sang Khaliq dengan hambanya.

Nurcholish Madjid menyebutnya sebagai perjanjian primordial atau perjanjian azali. Salah satu ayat dalam Alqur’an suci, menggambarkan perjanjian tersebut, yang terjemahannya sebagai berikut : “ Bukankah Aku ini Tuhanmu? Ya kami bersaksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan “Sesungguhnya kami (anak cucu Adam) adalah orang-orang lengah terhadap keesaan Tuhan” (Q7:172).

Bacaan Lainnya
 

Perjanjian primordial tersebut, sekaligus sebagai misi utama atas keseluruhan proses kehidupan kita, jadi semacam misi generik, meskipun pada prinsipnya ada beberapa misi suci lain, sebagai turunan dari misi generik tersebut, salah satunya adalah dalam kapasitas kita sebagai khalifah (wakil) Tuhan, maka misi kita adalah menciptakan kesejahteraan sosial, dalam batas keadaban Islami. Kembali kepada perjanjian primordial kita dengan Tuhan, yang pernah kita ikrarkan di depan Tuhan, di suatu alam ruhani.

Nurcholish Madjid mengistilahkan “sebagai perjanjian yang tak terhingga di masa lalu, from all eternity”. Selanjutnya kita membawa perjanjian primordial tersebut dalam kehidupan dimuka bumi, untuk kita tunaikan atau kita manifestasikan. Selanjutnya kita akan kembali kepada Tuhan, untuk mempertanggungjawabkan perjanjian primordial tersebut. Jalan atau cara untuk kembali kepada Tuhan, satu-satunya cara adalah jika kita konsisten menunaikan perjanjian primordial tersebut.

Ada dua aspek yang utama dari penunaian perjanjian tersebut, yaitu Pertama; konsisten secara ruhani dan laku muamalah, bahwa tidak ada bentuk ketundukan dan kepatuhan kepada apapun dan siapapun, selain kepada ALLAH Subhana Wata’la (tauhid). Dalam konteks tauhid ini Ibn Atha’Illa, menjelaskan dengan sangat bagus yaitu ; “manusia diciptakan sebagai itentitas yang mulia. Jika pada mulanya manusia itu mahluk yang mulia, maka ketika itu dia mensucikan dirinya, berarti dia sesuai dengan kejadian asalnya, tapi kalau dia kotor (najis) berarti telah menyalahi asalnya”.

Manusia menjadi najis ketika dia mempersekutukan ALLAH, sebagaimana firman ALLAH : “ hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang yang musyrik itu adalah najis (Q.S. al-Tawbah 9:28).

Kedua; bentuk manifestasi yang point pertama itu, adalah ritual ibadah penyembahan kepada ALLAH Subhana Wata’la, seperti yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah SAW.

Seluruh hidup kita merupakan realisasi atau pelaksanaan untuk memenuhi perjanjian dengan ALLAH, yang intinya adalah ibadah. Kita tidak mungkin bisa menemukan jalan untuk kembali kepada Tuhan manakala kita mengingkari perjanjian primordial tersebut.

Itulah sebabnya, orang yang mengingkari atau tidak menunaikan perjanjian dengan Tuhan, disebut “orang sesat”, artinya orang yang tidak bisa menemukan jalan untuk kembali kepada Tuhannya. Orang-orang yang sesat dalam terminologi keagamaan disebut dhallun.

Mereka yang tidak menemukan jalan (dhallun) untuk kembali kepada Allah, karena mereka tidak pernah membangun hubungan yang intensif dengan Allah melalui ibadah, yaitu dengan sholat, zikir dan sebagainya. Dengan sholat dan zikir, yakni suatu kesadaran trasedental tentang hadirnya Allah disemua aspek kehidupan kita, dan selanjutnya lahirnya kesadaran spiritual bahwa kepadanya kita akan kembali.

Bagi orang-orang yang tidak bisa menemukan jalan kembali kepada Tuhannya (tersesat), maka pasti akan menemukan kesengsaraan yang luar biasa, dan kesengsaraan yang tidak terhingga batas waktunya, karena proses kembali berjumpa dengan Tuhan, adalah proses kehidupan yang abadi.

Sebaliknya bagi hamba, yang dibimbing dengan kasih sayang Ilahi Rabbi, yakni dengan menemukan jalan kembali kepada Tuhannya, maka sang hamba akan menemukan kebahagian dan kenikmatan yang luar biasa, karena berjumpa dengan Ilahi Rabbi, adalah puncak kenikmatan, yang tidak pernah mampu dibayangkan oleh pikiran. Wallahuallam bissawab.

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait