Success Story (2-Habis) Dari Kasus ke Kasus Jurnalistik

  • Whatsapp

Bagian 1 Baca Disini

Itu kasus pertama. Kasus kedua ketika Syahrir Lantoni memimpin Kendari Ekspres (sekarang namanya Rakyat Sultra). Kasus berawal ketika Kendari Ekspres menurunkan berita hasil liputan kasus shabu-shabu di persidangan Pengadilan Negeri Kendari. 

Bacaan Lainnya

Hasil sidang itu diturunkan dalam bentuk berita dengan judul: “Upeti Rp 3 Juta Tiap Bulan buat Kapolda”. Sidang itu mengagendakan meminta keterangan saksi Kapten Pol Boy. Boy adalah perwira menengah Polda Sultra. Boy bersama 3 PNS ditangkap petugas Polda Sultra karena pesta shabu-shabu di rumah Boy sendiri.

Dalam kasus itu, Boy disidang di Mahmil dan disel di tahanan Polda Sultra, sedangkan 3 PNS yang ditangkap nyabu bersama Boy disidang di Pengadilan Negeri Kendari. Boy dihadirkan sebagai saksi.

Ketika hakim menanyakan kenapa ditangkap dan pesta shabu-shabu di rumah Boy sendiri? Boy menjawab jujur dan terbuka. Dia mengatakan dirinya sebenarnya jengkel dengan Kapolda karena selalu minta upeti tiap bulan Rp 3 juta. Boy merasa mangkel karena tak tahu di mana harus mengambil duit 3 juta itu. Boy punya cara, yaitu menangkap dan melepaskan pengguna dan pengedar shabu-shabu dengan imbalan uang. Karena itu, Boy sangat dekat dengan pemakai dan pengedar shabu-shabu di Kendari.

Bisa jadi, Boy menyediakan rumahnya untuk pesta, juga dalam rangka mencari duit itu. Namun seperti diketahui, Boy juga saat itu sedang mangkir dari tugas, sehingga Kapolda memerintahkan mencari Boy. Sial dia dibekuk saat berpesta shabu-shabu bersama 3 PNS di rumahnya.

# Nyanyian Kapten Boy di hadapan sidang pengadilan yang terbuka untuk umum itu secara cepat naik cetak di Kendari Ekspres. Media cetak lain dikatahui tidak memberitakan, atau diberitakan namun tidak menonjolkan angle upeti Rp 3 juta itu. Berita menyeruak dan juga dikirim ke Jawa Pos dan diterbitkan.

Sialnya, berita di Jawa Pos itu dibaca langsung oleh Kapolda saat menerima koran Jawa Pos di atas pesawat setelah transit di Surabaya dalam penerbangan Jakarta-Kendari. Muka Kapolda berang. Turun di Kendari, dia pun menemukan berita itu di Kendari Ekspres. Tambah marah.

Foto : Jajaran Manager Indopos

Syahrir Lantoni yang memimpin Kendari Ekspres waktu itu tidak tahu kalau Kapolda begitu murka. Besoknya Kapolda melayangkan surat klarifikasi ke Kendari Ekspres. Isu suratnya mohon berita itu dicabut karena tidak benar. Berita itu, kata Kapolda, adalah bohong, fitnah dan pencemaran nama baik. Surat Kapolda itu tidak dibalas. Syahrir Lantoni diam dan menunggu apa reaksi atas pendiaman itu.

Acil merasa yakin tidak ada yang salah dari berita berjudul “Upeti Rp 3 Juta Per Bulan buat Kapolda” yang ditulis langsung Indarwati Amiruddin itu. Indarwati sendiri hadir di persidangan dan merekam semua kesaksian Kapten Boy. Rekaman itu juga disimpan secara baik oleh Indarwati.

Namun apa yang terjadi? Kapolda tidak diam. Besoknya dia mengundang pemimpin media massa ke kantornya, termasuk Pemimpin Redaksi Kendari Ekspres, Syahrir Lantoni. Di ruang kerjanya, Kapolda berang dan membantah semua tuduhan tentang upeti itu.

Saat itu adalah bulan puasa. Namun marahnya benar-benar meledak-ledak. Dia minta Kapten Boy dikeluarkan dari sel. Maklum Boy ditahan karena harus menjalani Mahmil. Kapolda berteriak minta ajudan menghadirkan Boy. Di depan pemimpin redaksi, Kapolda menunjuk-nunjuk Boy. “Kurang apa saya pada kamu Boy, sampai bicara begitu,” kata Kapolda.

Boy yang ditanya benarkah mengatakan begitu seperti ditulis Kendari Ekspres? Boy mengatakan waktu usai sidang ada wartawan bertanya, namun tidak menjawab langsung. Tapi Boy mempersilakan wartawan mengutip semua apa-apa yang disampaikannya di sidang tadi. Indar kebetulan merekam semua jalannya sidang sehingga datanya lengkap.

Kapolda tambah meledak. Dia mengacungkan tangan ke atas lalu berkata: Demi Allah satu sen pun tidak ada uang yang diambilnya. Itu fitnah dan merusak nama baiknya. Pertemuan bubar.

Malamnya, saat tengah malam, saat Syahrir Lantoni sudah tidur karena takut telat sahur, Kapolda menelpon. “Ini Amir Iskandar Panji, Kapolda Sultra,” kata Kapolda di balik telepon. Syahrir melayani dengan tenang. Dalam pembicaran itu, Kapolda meminta agar rekaman di persidangan diserahkan kepadanya. Namun Acil menyatakan tidak bisa, karena rekaman itu adalah alat bukti dari pemberitaan Kendari Ekspres.

Kapolda mengancam, jika rekaman itu tidak diserahkan kepadanya, maka Syahrir yang bertanggungjawab. Ancaman itu sudah di luar wajar dari seorang Kapolda, orang nomor 1 di kepolisian wilayah Sultra.

Besoknya, Acil melakukan konsolidasi dengan mengumpulkan wartawan Kendari Ekspres. Tak lupa meminta kepada Indarwati untuk menduplikasi rekaman dalam kaset tape recorder nya. Tujuh copy di sembunyikan dan dipegang oleh masing-masing wartawan. Sementara pihak Polda melakukan operasi mata-mata bagi semua tim Kendari Ekspres. Bahkan ada wartawan Kendari Ekspres yang diintimidasi.

Syahrir kemudian menyimpulkan bahwa Kapolda sudah bertindak arogan dan, karena itu, harus dilawan dengan cara konfrontasi sampai Kapolda dicopot.

Mula-mula Acil mengumpulkan semua ketua-ketua organisasi wartawan se Sultra. Dalam pertemuan di Hotel Aden itu, PWI, PWI Reformasi, AJI, dan lainnya sepakat bahwa tindakan Kapolda adalah arogan. Dan karena itu, semua sepakat membuat pernyataan mendesak Kapolda Sultra dipecat. Dari pihak AJI, surat dikirim lewat pengacara AJI Indonesia di Jakarta ke Kapolri.

Langkah kedua, Acil mengkonsolidasi adik-adik mahasiswa, aktivis mahasiswa, Ketua BEM, Senat, dan organisasi ekstra kampus. Hasilnya, aktivis mahasiswa lewat lembaganya masing-masing mengeluarkan surat pernyataan mendesak Kapolri mencopot Kapolda Sultra.

Langkah ketiga, Acil mengkonsolidasi LSM, OKP-OKP, KNPI dan lain-lain di rumah Arsyad Abdullah. Ketua KNPI waktu itu Dra Endang Abbas Buraerah pun siap membuat pernyataan sikap mengutuk tindakan Kapolda yang mengancam kebebajsan pers.

Langkah keempat, Syahrir Lantoni mengumpulkan lawyer-lawyer dan diperoleh pengakuan bahwa ada 9 pengacara siap membela Kendari Ekspres dan pemimpinnya. Bergabung antara lain Arbab Paproeka, Baso Sumange Rellung, Gazali Hafid, Rahman, Hermanto, dll.

Dari serangkaian konsolidasi itu, Kapolda justru merespons dengan memanggil Syahrir Lantoni untuk menghadap ke penyidik sebagai saksi. Acil memenuhi panggilan Polda namun menolak bersaksi, sebab dia mempertanyakan bersaksi atas tersangka siapa? Tidak ada tersangka tapi sudah memanggil saksi-saksi. Penyidik menerima penolakan itu, tapi besoknya Syahrir Lantoni ditetapkan sebagai tersangka.

Konsisten di Bidang Media

Sebagai tersangka, Syahrir Lantoni bukanlah sesuatu yang buruk. Tersangka pencemaran nama baik ibaratnya hanya pasal karet. Syahrir berharap UU Pokok Pers hendaknya dipakai oleh Kapolda, untuk menangani sengketa pembaca dengan perusahaan pers. Sayangnya Kapolda Amir Iskandar Panji tidak ingin menggunakannya.

Bisa dimaklumi, karena dengan memakai UU Pers maka sanksi bagi Syahrir Lantoni hanyalah kewajiban membuat hak jawab. Ini mungkin tidak seimbang dari kacamata Kapolda. Jika menggunakan KUHP, bisa saja Acil masuk penjara dan kehilangan hak jurnalistiknya alias kehilangan karir. Benar-benar Kapolda berang.

Sebagai tersangka, Acil baru hadir pada panggilan kedua. Bayangkan, di saat bulan puasa, lalu diperiksa dari jam 9 pagi hingga jelang magrib sungguh berat. Lebih berat lagi karena Acil diperhadapkan head to head Kapolda dalam 3 posisi sekaligus. Pertama, Kapolda sebagai korban, kedua Kapolda sebagai pelapor, dan ketiga Kapolda sebagai penyidik. Dia korban, dia melapor, dan dia menyidik.

Dalam pemeriksaan petama, Syahrir Lantoni berhadapan dengan penyidik kepercayaan Kapolda. Pertanyaannya menusuk, tapi akhirnya berputar-putar. Menurut Acil, penyidik justru tidak bisa mengembangkan pertanyaan secara independen. Sebab, setiap habis beberapa pertanyaan, penyidik masuk lagi ke ruangan Kapolda dengan mengantongi beberapa pertanyaan saat keluar. Acil gerah dan meminta kepada penyidik sebaiknya Kapolda sendiri saja yang berhadapan muka dengan Acil. Biar pertanyaannya langsung. Penyidik menyatakan: “Saya hanya menjalankan perintah, Pak Syahrir”.

Itulah pemeriksaan satu-satunya dan terakhir. Karena pasca pemeriksaan itu, Kendari Ekspres melanjutkan konfrontasi dengan mengangkat berita-berita negatif Kapolda. Misalnya, lapangan tembak dijadikan kafe dengan menjual minuman-minuman keras, karaoke hingga dinihari. Fasilitas negara dikomersialkan. Berita-berita lain makin mencitrakan negatif kepemimpinan Kapolda. Kebiasaan-kebiasaannya dan pernyataan-pernyataan yang arogan terus mewarnai pemberitaan Kendari Ekspres.

Yang menarik, Acil juga menempuh cara hearing di DPRD. Begitu eskalatifnya kasus ini sampai harus dibawa hearing di DPRD. Hearing pertama antara Kendari Ekspres dengan DPRD, dan hearing kedua rencananya dengan kedua belah pihak yang bertikai namun gagal karena pihak Kapolda menolak berhadapan dengan Acil bersama 7 pengacaranya di forum DPRD. Jadi dalam hearing kedua itu, Kapolda dan jajarannya yang duluan hearing, dan setelah mereka pulang, barulah pihak Acil didengar keterangannya. Saat hearing itulah, mahasiswa juga turun meminta Kapolda dicopot.

Citra buruk terus dikembangkan sampai ke tingkat pusat. Ditambah dengan pernyataan sikap dari mahasiswa, Ormas, LSM, dan organisasi wartawan, Kapolda Sultra akhirnya dicopot. Kabar pencopotan Kapolda itu diterima dari Wakapolda Sultra, di saat karyawan Kendari Ekspres tengah merayakan ulang tahun untuk Acil. Jadi semacam hadiah ulang tahun. Gigih memperjuangkan kebenaran.

Syahrir Lantoni dikenal sebagai mantan aktivis HMI yang memilih profesi sebagai jurnalis. Jabatan terakhir di HMI adalah Bendahara Umum Badko Indonesia Timur periode 1988-1990 dengan jenjang basic, internediate, Advance dan Pusdiklat. Ikut merancang Silabus Pengkaderan HMI di Surabaya.

Lahir dan besar di Makassar, Acil memulai giat tulis menulis sejak di bangku kuliah di Fakultas Ekonomi UMI. Tulisan-tulisannya banyak menghiasi Koran FAJAR dan Pedoman Rakyat Makassar. Sesekali menulis di Majalah JakartaJakarta, dan media kampus UII Yogyakarta. Dari tulisan-tulisan itulah namanya dikenal redaksi media cetak di Makassar.

Tamat dari kampus, Acil melamar jadi wartawan di Harian FAJAR. Waktu itu Koran FAJAR baru saja diakuisisi oleh Jawa Pos. Tak perlu test masuk jadi jurnalis karena pimpinan koran FAJAR waktu itu sudah tau kalau Syahrir Lantoni adalah penulis yang produktif. Tinggal bagaimana mengasah insting jurnalistiknya.

Bulan pertama, kedua dan ketiga, irama kerja di harian FAJAR bisa dilalui. Praktis Acil tidak banyak ke lapangan karena pasca tiga bulan itu dia diberi tanggungjawab menjaga halaman internasional lalu kemudian halaman Indonesia Timur sampai Perang Teluk meletus pada 1990.

Tak lama, Acil minta izin pindah tugas Kendari karena ingin sekalian menikahi gadis Kendari. Diizinkan, dan jadilah Acil koresponden Harian FAJAR di Kendari dan sejak 1992 mendapat tambahan job sebagai wartawan Jawa Pos untuk liputan Sultra.

Tahun 1995 Jawa Pos mengakuisisi Media Kita, lalu Kendari Ekspres pada 1997, di mana di kedua koran itu Acil ikut membidani pendiriannya.

Tahun 2002, Syahrir Lantoni pindah ke Jakarta dan bergabung dengan Indopos, koran milik Jawa Pos, pada 24 Februari 2003. Koran Indopos terus berkembang seiring dengan kebutuhan informasi warga Jakarta.

Di Indopos, Acil sempat menjadi Koordinator Liputan, dan sekarang memimpin Divisi Online Indopos dengan portal berita: www.indopos.co.id. Setelah pensiun dari Indopos, Syahrir Lantoni bergabung pada Perkumpulan UMA dengan mengelola divisi madianya sampai saat ini.

Selesai..

Terima kasih..

Syahrir Lantoni (Pembina Sultrademo.co)

Pos terkait