Take a fresh look at your lifestyle.

Syahrir Lantoni*, Jurnalis yang Langgeng dengan Idealismenya (Bag.1)

*Pembina Sultrademo.co

Iklan Tanah

Success Story di Bumi Anoa (1)

Dunia pers di Kendari Sulawesi Tenggara (Sultra) baru menggeliat sejak medio 1995, di saat Jawa Pos Grup mengembangkan sayapnya di kota ini. Sebelumnya, media massa cetak lokal hanya terbit secara berkala, seperti misalnya Media Kita dan Nusantara Pos.

Jawa Pos dengan rencana pengembangannya harus menjangkau seluruh ibu kota provinsi, termasuk Kendari ini. Kebijakan Jawa Pos Grup sendiri cukup unik. Tidak harus mengurus SIUPP baru, tapi lebih baik mengakuisisi SIUPP lama, sekaligus bisa mengakuisisi media cetak lokal agar sama-sama bisa berkembang.

Alhasil, Media Kita diambil Jawa Pos dan menjelma menjadi anak perusahaan yang terbit tiap hari. Seperti kebiasaan Jawa Pos, tak perlu juga merekrut tenaga jurnalistik untuk mengelola koran-korannya di daerah. Sebab, anak-anak Jawa Pos sudah tersebar ke semua ibu kota provinsi. Di Kendari, ada orang Jawa Pos yang cukup kredibel. Yaitu Syahrir Lantoni.

Syahrir Lantoni inilah, bersama dengan jajaran redaksi Media Kita lama dipercaya mengelola Media Kita yang belakangan berganti nama menjadi Kendari Pos, sampai meninggalkan koran harian pertama di Sultra itu pada 1997. Lepas dari Media Kita, era reformasi bergulir, di mana kran kebebasan pers dibuka oleh pemerintahan BJ Habibie.

Di era reformasi inilah, euforia kebebasan pers seperti lepas kendali. Secepat kilat berdiri media-media cetak yang umumnya tabloid, termasuk salah satunya di Kendari dengan nama ProDemokrasi. Tabloid ProDemokrasi pun dibidangi kelahirannya oleh Syahrir Lantoni bersama figur-figur keren Mappajarungi Manan, Sultan Eka Putra, Baso Sumange Rellung, dan Arbab Paproeka.

Foto : Bersama Editor Senior Media-Media Nasional

Setahun ProDem hadir di Sultra, Syahrir Lantoni kembali ditunjuk oleh Jawa Pos untuk mendirikan Koran Kendari Ekspres (kini namanya menjadi Rakyat Sultra). Mulanya Kendari Ekspres hanya terbit mingguan, namun tak lama akhirnya terbit secara harian.

Tiga media cetak yang pendiriannya dibidani Syahrir Lantoni menjelaskan siapa Syahrir Lantoni. Pria kelahiran 5 Mei 1963 ini boleh dikata sebagai salah satu tokoh pers Sultra.

Donasi

Untuk disebut tokoh pers kriterianya sebenarnya seberapa besar pengabdiannya di dunia pers, tapi juga seberapa besar keterlibatannya di dunia jurnalistik. Syahrir Lantoni memenuhi itu, sebab, Acil -begitu Syahrir Lantoni biasa disapa- juga adalah pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Kendari.

Tak hanya pendiri, tapi juga sebagai ketua AJI Kendari yang pertama. Di luar AJI, Syahrir Lantoni juga ikut memfasilitasi pendirian PWI Reformasi, dan menjadi bagian dari Jaringan Wartawan Pemantau Pemilu untuk Pemilu 1999.

Idealisme Acil di dunia jurnalistik juga tak diragukan lagi. Tercatat dua kasus besar menyangkut karya jurnalistik ikut membuktikan siapa Syahrir Lantoni. Kasus pertama adalah saat Tabloid ProDemokrasi mengulas citra Kejaksaan Sultra dengan judul “Kejaksaan Gombal”. Judul ini membuat Kepala Kejaksaan Tinggi Sultra Soewarsono SH marah bukan kepalang.

Soewarsono berang bukan main disebut gombal. Dia marah dan melakukan langkah-langkah keras. Langkah pertama Soewarsono datang dengan muka marah ke kantor ProDem. Di sana, Kajati Sultra ini gagal menemui Syahrir Lantoni. Namun tetap berpesan agar besok Syahrir Lantoni harus menghadap ke kantor Kepala Kejaksaan Tinggi Sultra.

Besoknya Acil datang menemui orang nomor satu di Kejaksaan itu. Soewarsono marah, membentak-bentak, memaki-maki Syahrir Lantoni. Acil hanya bisa menjelaskan arti kata-kata “gombal” itu. Dia tidak terima dan mengancam akan menuntut perdata Rp 1 miliar dan pidana seberat-beratnya. Syahrir Lantoni tidak gentar karena merasa benar.

Keesokan harinya, Kajati sudah bersiap ke pengadilan membawa gugatan, namun dicegat oleh Kepala Biro Antara Kendari Rolex Malaha. Rolex meyakinkan bahwa Syahrir pasti mau diajak berdialog lagi. Soewarsono kemudian tahan diri, dan menyuruh Rolex menghubungi Acil. Rolex minta Acil datang, namun Acil menolak datang. Acil hanya mau nego di tempat yang netral.

Tawar menawar terjadi, maka lewat Rolex tempat dialog disepakati di Rumah Makan Padang Jalan Abdullah Silondae tepat jam 7 malam. Syahrir datang bersama Mappajungi Manan, Sultan Eka Putra dan Andi Sangkarya Amir. Sedangkan pihak Kajati Sultra datang bersama Wakajati dan Kepala Humas nya.

Dialog berlangsung panas. Kajati ngotot ProDem harus minta maaf dengan meminta maaf melalui koran lokal dan nasional selama tiga hari berturut-turut. Syahrir menolak karena tidak ada yang salah dari judul dan ulasan “Kejaksaan Gombal” itu.

Tawarannya menurun, setelah berdebat keras. Akhirnya Kajati minta agar permohonan maaf cukup di Tabloid ProDem saja. Namun lagi-lagi Syahrir Lantoni menolak. Acil hanya bisa minta maaf melalui surat redaksi dengan meminta maaf kepada publik, bukan kepada Kajati. Kata sepakat dicapai dan bubar.

Besok malamnya, Kajati Soewarsono datang ke Kantor ProDem. Syahrir menduga ada apa-apanya lagi. Ternyata, Soewarsono datang hanya untuk silaturahmi dan menanyakan apa ada undangan untuknya dari ProDem, sebab besoknya ProDem menjadi media supporting diskusi publik dengan Prof Baharuddin Lopa. Soewarsono pun diundang untuk sama-sama menjemput Baharuddin Lopa.

Bersambung

Komentar FB
error: Konten Terproteksi !!

Send this to a friend