Hadapi Musim Kemarau, BMKG Ungkap Penyebab Suhu Panas dan Antisipasinya

Kendari, Sultrademo.co – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kendari, mengungkap penyebab suhu panas di musim kemarau di Sulawesi Tenggara (Sultra). Diprediksi musim kemarau akan berlangsung dalam beberapa hari kedepan hingga bulan November 2023 mendatang. Rabu(18/10/2023).

Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kendari, Sugeng Widarko memaparkan musim kemarau diprediksikan sampai November mendatang.

Bacaan Lainnya
 

“Kalau untuk kemarau diprediksi bisa sampai dengan November, karena sebagian besar di Sulawesi Tenggara itu pada bulan November sampai dengan Desember sudah memasuki awal musim hujan,” paparnya.

Ia menghimbau masyarakat selama musim kemarau untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran agar menunda pembakaran, dan untuk masyarakat yang beraktifitas diluar ruangan agar mengkonsumsi air putih yang cukup agar tidak dehidrasi.

“Musim kemarau ini sudah lebih dari sebulan tidak turun hujan, tapi umumnya ada sebagian wilayah yang sudah turun hujan akan tetapi curah hujannya tidak begitu lebat atau tidak begitu signifikan. Yang perlu dilakukan adalah menunda pembakaran, kalau bisa. Karena dikhawatirkan, pembakaran bisa merembek ke tempat yang lain. Kalau semisalkan harus membakar, itu diakoalisir apinya agar tidak meluas atau melebar. Karena pada siang hari, anginnya lumayan kencang dikhawatirkan merembek ke tempat lain. Selanjutnya, untuk masyarakat yang beraktifitas di luar ruangan, diharapkan memperbanyak minum air putih sehingga tidak dehidrasi. Kemudian, masyarakat diharapkan penggunaan air itu agar lebih hemat karena musim kemarau kita masih panjang. Masih ada sekitar satu setengah bulan kedepan, jadi itu juga perlu diwaspadai untuk tetap sedia air,” jelas Sugeng.

Ia menambahkan, Musim kemarau tahun ini salah satu penyebabnya dibarengi dengan wabah elnino. “Kita ini memang masih musim kemarau ya, jadi untuk Sulawesi Tenggara musim kemarau itu umumnya sekitar akhir bulan Juli sampai dengan memasuki awal atau akhir November. Di musim kemarau tahun ini kita dibarengi dengan elnino yang dapat mengurangi curah hujan. Jadi elnino ini berdampak pada pengurangan curah hujan yang ada di Indonesia, utamanya Indonesia bagian timur termasuk wilayah Sulawesi Tenggara,” bebernya.

“Karena kita sudah lebih dari sebulan, tidak turun hujan menyebabkan tanahnya menjadi kering. ,” tegasnya.

Sementara itu, sambungnya, musim kemarau tahun ini yang dibarengi dengan wabah elnino ternyata pernah terjadi pada tahun 2015–2016. Dibandingkan dengan tahun tersebut, wabah elnino tahun ini justru termasuk dalam kategori moderat

“Elnino itu sebenarnya pernah terjadi juga di tahun 2015–2016, bahkan elninonya termasuk kategori kuat. Kalau saat ini termasuk kategori moderat. Jadi, untuk dampak kekeringannya lebih berdampak pada tahun 2015 kemarin sampai dengan 2016,” tutupnya. (Nurlavyon Almudilan/M1)

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait