KAHMI untuk Indonesia

  • Whatsapp

 

Oleh Prof. R. Siti Zuhro
(Korpres. MN KAHMI)

Bacaan Lainnya

KAHMI didirikan sebagai pengejawantahan concern yang dalam terhadap NKRI. Karena itu, berdiskusi membahas isu serius terkait nasib NKRI seharusnya menjadi bagian tak terpisahkan dari tupoksi sebagai alumni HMI.

Demokrasi dengan pilkada dan pemilu adalah ajang kontestasi calon pemimpin yang berintegritas, berkualitas, berkapasitas dan memiliki karakter kepemimpinan yang jelas dan terukur.

Setelah 20 tahun menjalankan demokrasi, saatnya pemilu yang akan datang naik kelas. Para calon tidak menimbulkan kontroversi, parpolnya memiliki tanggungjawab dalam mengusung calon, penyelenggaranya profesional dan independen, penegak hukumnya tidak partisan dan masyarakatnya cerdas memilih.

Prakondisi tersebut harus tercipta supaya pemilu yang berkualitas dan damai bisa terwujud. Sebab gagal dalam menciptakan prakondisi tersebut akan mengurangi kualitas demokrasi Indonesia. Elite dan aktor tidak boleh menjadi faktor yg constraining apalagi sampai menghalalkan semua cara untuk memenangkan pemilu. Baik itu via vote buying, perilaku melanggar hukum dan perilaku distortive lainnya yang merugikan orang lain dan bahkan negara.

Hampir setiap pemilu yang diadakan tak sepi dari sengketa dan konflik yg menimbulkan lara-lara politik. Pengalaman ini menunjukkan bahwa “proses menjadi” mensyaratkan pentingnya peran elit dan aktor dalam konsolidasi demokrasi. Sebagai proses pembelajaran, mereka bisa menjadi role model yang memberikan teladan- teladan positif dengan menghadirkan contoh konkrit. Sehingga melalui ini kematangan/kedewasaan politik terbangun. Trust building menjadi key word dalam demokrasi. Nilai-nilai ini tdk boleh kering dalamm membangun demokrasi di Indonesia. Karena semakin minim nilai-nilai ini kita miliki, akan semakin tak baik pula pengaruhnya terhadap rasa kebangsaan.

  • Whatsapp

Pos terkait