Karena Corona, Kami Sekampung “Dibombe”

  • Whatsapp

Bismillah, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuhu.

Selama pandemik covid-19, kami sebagai jurnalis masih saja bertugas di lapangan menyajikan update berita perkembangan covid-19 ini.

Bacaan Lainnya

Tapi hampir sepekan terakhir ini, saya tidak lagi keluar rumah ketika salah seorang dari kampung saya divonis fositif corona. Semenjak itu, kami sekampung “dibombe” (dicueki), dihindari, nampak seperti menjijikan, bahkan menakutkan bagi warga desa lain. Untuk sekedar belanja di pasar (terletak di desa lain) warga dari desa kami dihindari, hingga tak diladeni. Demikian halnya ke Puskesmas, dan tempat umum lainya yang terletak di desa tetangga.

Begitu diketahui dari desa kami, pasti mendapat perlakuan tidak baik.

NA (inisial) salah satu mahasiswa asal Desa Kosebo, Kecamatan Angata, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang kuliah di Makassar.

Sekira tiga minggu lalu, NA tiba di kampung halaman, dan sontak dijemput tim gugus tugas covid -19 setelah diketahui memiliki gejala virus. Dan empat hari lalu, hasil swab pun keluar yang mencatat NA adalah orang ke dua fositif corona di Kabupaten Konsel.

Sejak saat itu, kami dari warga setempat merasa terasingkan. Seperti terpenjara dikampung sendiri. Diperlakukan tidak baik, dan dipandang sebelah mata.

Jika sekampung kami sudah seperti itu mendapat perlakuan, bagaimana dengan kedua orang tua korban, sudah hampir sebulan ini merasa bersalah dan mengurung diri dalam rumah.

Tulisan ini tidak bermaksud menyalahkan siapa-siapa. Sebab mereka yang menghindari, dan mencegah berinteraksi dengan kami sekampung adalah langkah memutus mata rantai covid-19.

Saya hanya ingin menyampaikan kepada publik sebuah kondisi nyata, bahwa betapa kejam corona ini, disamping itu saya ingin menyapa Gubernur Sultra Ali Mazi, yang katanya punya ratusan miliyar untuk warga yang terdampak efek covid-19. Disinilah tempat yang tepat.

Setelah Ali Mazi, Assalamu’alaikum pak Bupati Konsel, pak Surunuddin Dangga. HUT Konsel kemarin saya tidak terlihat di lapangan liputan. Jawabannya sudah saya uraikan di atas. Semoga pak Bupati bisa menguatkan warga di desa kami, jika tidak materi, minimal tidak mengirim tim gugus, atau datang sendiri memberikan motivasi dan edukasi baik kepada warga desa kami maupun warga desa lain, hitung-hitung membantu kuat menghadapi situasi ini.

Saya apresiasi Kepala Desa saya, yang tak lain adalah guru saya di Tsanawiyah, dan Aliyah dulu, bapak Arid Syam. Saya melihat betapa lelah beliau yang juga harus menanggung beban sosial luar biasa dahsyat, dengan segala kemampuannya dia tetap menguatkan warga. Kendati saya yakin bahwa cepat atau lambat, kondisi akan membaik. Tapi warga desa Kosebo mengharapkan perhatian pemerintah kabupaten dan provinsi dan tidak membiarkan kepala desa berjalan seorang diri.

Semoga Allah subhanaahu wata’ala segera mencabut wabah di negeri, memberikan kekuatan kepada para pemimpin agar tetap menjadi garda terdepan dalam memerangi covid-19 ini.

Demikian tulisan singkat ini. Selamat menunaikan ibadah di bulan suci ramadhan.
Wassalamu’alaikum warahmatullaahi Wabarakaatuh.

Penulis : Aliyadin Koteo

  • Whatsapp

Pos terkait