Kembali Kefitrah

Oleh: Makmur Ibnu Hadjar
Alumni UGM & Curtin University
Komisi Pendidikan MUI SULTRA

Puncak dari pada ibadah puasa ramadhan bagi setiap individu yang melaksanakannya adalah kembalinya eksistensi kesucian setiap manusia. Dalam referensi Islam, eksistensi kesucian individu manusia, adalah eksistensi dari awal kejadian manusia, yakni eksistensi primordial manusia ketika berada di pangkuan Tuhannya. Untuk itu disebut sebagai “eksistensi fitrah”, yaitu kesucian awal kejadian manusia.

Bacaan Lainnya

Bulan ramadhan adalah bulan yang suci, untuk itu maka meyelenggarakan prosesi ibadah utama dalam bulan ramadhan, yaitu ibadah puasa disebut juga prosesi pensucian, sehingga sesungguhnya bulan ramadhan itu adalah salah satu bentuk dan wujud kasih sayang ALLAH SWT kepada ummatnya karena memberi ruang, waktu dan kesempatan untuk melakukan pensucian. Puasa ramadhan disyariatkan kepada ummat manusia untuk mendapatkan kesempatan untuk membersihkan diri dari kegelapan dan kezaliman dosa. Searah dengan itu Nurcholish Madjid mencatat tentang kezaliman manusia itu sebagai berikut; bahwa dosa dan kezaliman itu (zulm) mengotori hati manusia yang terang (nurani), sehingga menjadi gelap (zulmani).

Dalam keadaan hati manusia berzulmani itu maka ia terseret keluar dari kebahagian “surgawi” (paradiso), sebagai kesucian awal manusia (fitrah), dan tercampak ke dalam kesengsaraan “inferno” kegelapan dosa. Sejatinya bahwa konsep dasar penciptaan manusia oleh ALLAH SWT adalah fitrah atau kesucian awal. Karena pada dasarnya manusia itu konsep awalnya adalah suci dan sakral, maka konsekwensi selanjutnya adalah sikap-sikap sosial (muamalah), dan refkesi spiritual manusia harus juga menunjukkan atau mengidikasikan kesucian itu.

Suci dalam bertutur, suci dalam berperilaku dan dalam pergaulan sosial, suci dalam mengembang amanah, suci dalam syiasah, suci dalam berdagang, dan seterusnya.
Dalam referensi Islam, fitrah itu terkait dengan hanif, artinya suatu kecendrungan di dalam diri manusia untuk berpihak kepada kebaikan dan kebenaran. Dalam sebuah hadist yang sangat terkenal, Rasulullah SAW menuturkan refleksi kecendrungan manusia akan kebaikan dan keadilan ini sebagai berikut :

“ Kebajikan adalah sesuatu yang membuat hati dan jiwa tenang. Dan dosa adalah sesuatu yang membuat tidak karuan dalam hati dan terasa bimbang di dada” (HR.Ahmad).
Jadi pembicaraan dan perenungan kita dalam konteks fitrah ini menjadi jelas, bahwa manakala kita berbuat kezaliman, yang membawa konsekwensi dosa, maka sejatinya adalah kita sedang berbuat menghancurkan fitrah kita, dan kita sedang melawan eksistensi kemanusiaan yang ALLAH berikan kepada kita. Indikasinya adalah seperti hadist yang dirujuk di atas, yaitu ; perasaan tidak karuan dalam hati, dada terasa sesak, perasaan gelisah, terasa bimbang di dada, keringat berkucuran meskipun berada di ruang ber AC, dan seterusnya.

Ruang, waktu dan resonansi ke-Ilahian ramadhan memberikan kesempatan kepada setiap individu ummat memproteksi diri dari dorongan hawa NAFS, dalam rangka kita mendapatkan status asli kita dari ALLAH SWT, yaitu “mahluk yang fitrah dan hanif”. Untuk itu maka pahala puasa tergantung kepada proses dan motivasi (niat) pelaksanaanya, yaitu atas dasar iman dan ihtisab kepada ALLAH SWT, sambil disertai dengan rasa intropeksi atau pengendalian atas kecendrungan-kencendrugan (dorongan) hawa NAFS itu. Dengan begitu, maka berarti bahwa kualitas puasa seseorang, bukan karena sejauh mana haus dan laparnya sesorang. Itulah sebabnya ketika lupa bahwa sedang berpuasa lantas makan dan minum, maka perbuatan makan dan minum tersebut tidak membatalkan puasa kita. Dalam forum renungan ramadhan ini, kita telah melampaui paruh kedua bulan ramadhan, semoga rakhmat Ilahi menyertai kita semua, dengan hati yang ihlas, menjalangkan ibadah puasa ramadhan, insya ALLAH, eksistensi sebagai mahluk yang fitrah akan kita raih, sebagimana yang dijanjikan oleh ALLAH Yang Maha menepati janji. Wallahuallam bissawab.

 

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait