Komunikasi Efektif Keluarga Khalilullah Ibrahim

Khuthbah Idul Adlha 2020 di Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, M.Si, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Pengasuh Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an MONASH INSTITUTE Semarang.

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh.

Allahu Akbar Allahu Akbar, Laa Ilaaha illaa Allaahu wa Allaahu Akbar, Allaahu Akbar wapp lillaahi al-hamd.

الحمد لله الذي شرع لعباده التقرب اليه بذبح القربان, وقرن النحر بالصلاة في محكم القرآن. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ذو الفضل والإمتنان, وأشهد أن سيدنا محمدا عبده و رسوله أفضل من قام بشرائع الإسلام و حقق الإيمان. وصلى الله على سيدنا محمد و سلم عليه و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان

فيأيها الناس, أوصيكم وإيّاي بتقوى الله فقد فاز المتقون

قال الله تعالى فى مُحكم تنزيله: ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله وابتغوا إليه الوسيلة وجاهدوا في سبيله لعلكم تُفلحون

أما بعد…

Hadirin jama’ah shalat Idul Adlha yang berbahagia.

Bukan cinta kalau tidak terbukti mampu menjalani uji coba. Seorang kekasih yang benar-benar mencintai kekasihnya harus membuktikan bisa mengorbankan apa saja demi yang dicintainya. Nabi Ibrahim benar-benar layak mendapatkan gelar khalilullah atau kekasih Allah, karena beliau rela mengorbankan tidak hanya harta kekayaan, tetapi juga puteranya sendiri karena diperintahkan oleh Allah Swt..

Nabi Ibrahim, dalam statusnya sebagai utusan Allah, yang tentu saja menggunakan banyak kesempatannya untuk fokus beribadah kepada Allah, juga merupakan seorang yang sangat giat bekerja, sehingga membuatnya kaya raya. Karena harta kekayaan itu ia pandang sebagai titipan Allah belaka, maka Nabi Ibrahim menjadikannya sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan pengorbanan dalam jumlah yang sangat spektakuler berupa 1000 ekor kambing, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta. Jika dirupiahkan sekarang, nilai hewan kurban Nabi Ibrahim kira-kira 3 milyar ditambah 2,5 milyar, dan 5 milyar, sama dengan 10,5 milyar.

Karena besarnya kurban Nabi Ibrahim itu, maka Nabi Ibrahim mendapatkan pujian, bukan hanya dari sesama manusia, tetapi juga para malaikat. Bukan hanya penduduk bumi yang terkagum-kagum, tetapi juga penghuni lagi. Karena pujian itulah, Nabi Ibrahim mengucapkan nadzar; jangankan kambing, sapi, dan unta, jika ia punya anak laki-laki, dan Allah memerintahkan untuk mengurbankannya, maka ia akan melakukannya.

Setelah sekian lama memohon kepada Allah agar diberikan anak yang shalih, Nabi Ibrahim dalam usia yang hampir 100 tahun, mendapatkan kabar gembira bahwa istrinya akan melahirkan seorang putera. Penantian sangat panjang dan didalamnya dipanjatkan permohonan keturunan yang kemudian dikabulkan, membuat Nabi Ibrahim meluapkan kegembiraannya dalam nama puteranya. Diberikannya nama Isma’il yang merupakan bahasa Ibrani isma berari mendengar dan El berarti Tuhan, Allah. Isma’il berarti Allah mendengar atau mengabulkan do’a, dalam hal ini do’a Nabi Ibrahim:

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (al-Shaaffaat: 100).

Namun, sebagaimana kisah lanjutannya di dalam al-Qur’an, Nabi Ibrahim diuji untuk menjalankan nadzar yang pernah diucapkannya. Allah memerintahkan untuk menyembelih putera yang telah lama ditunggu-tunggunya itu. Perintah itu datang dalam mimpinya. Untuk memastikan apakah mimpi itu dari Allah atau Setan, Nabi Ibrahim melakukan perenungan mendalam. Karena itulah, hari perenungan mendalam itu disebut hari Tarwiyyah, dari kata rawwaa-yurawwii-tarwiyyatan, berarti berpikir keras untuk memastikan kebenaran. Malam hari berikutnya, Nabi Ibrahim mengalami mimpi yang sama.

Perenungannya mengantarkan kepada kondisi mengetahui dengan pasti, sehingga hari itu disebut hari ‘Arafah, berasal dari kata ‘arafa-ya’rifu-‘arafatan, berarti mengetahui atau mengenali. Nabi Ibrahim mendapatkan kepastian bahwa mimpinya itu adalah wahyu dari Allah. Karena sudah meyakini dengan sepenuh hati, maka keesokan harinya, Nabi Ibrahim setelah mendapatkan persetujuan puteranya melakukan penyelembelihan, sehingga hari itu disebut yawm al-nahr (hari penyembelihan).

Walaupun Nabi Ibrahim adalah rasulullah, kepada anaknya beliau tidak bertindak otoriter. Setelah Nabi Ibrahim yakin bahwa mimpinya itu adalah pertanda perintah dari Allah, Nabi Ibrahim mengajak puteranya berdiskusi. Dan karena Nabi Isma’il telah dibekali dengan paradigma yang benar sejak kecil, maka Nabi Isma’il pun menanggapi perintah itu dengan kepasrahan total kepada Allah. Komunikasi yang sangat efektif di antara keduanya, diabadikan oleh al-Qur’an:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar“. (al-Shaaffaat: 102).

Untuk mendapatkan komunikasi yang berimbang tersebut, tentu saja kedua orang yang berkomunikasi harus terlebih dahulu bertemu secara ideologis. Jika tidak terdapat pertemuan ideologis, yang akan terjadi justru adalah pertentangan antara ayah dengan anak. Dalam konteks substansi ajaran, tentu saja tidak terbatas antara ayah dengan anak, tetapi suami dengan istri, mertua kepada menantu, dan seterusnya.

Karena itu, terutama para orang tua harus mengawali pendidikan anak-anak dengan paradigma al-Qur’an. Al-Qur’an harus menjadi fondasi yang kuat. Dan itu bisa dilakukan sejak dini sampai menjadi pribadi yang menjalankan tujuh kewajiban dengan lengkap, yaitu: membacanya, memahami arti literalnya, menghafalkannya, merenungkannya, mengamalkannya, mengajarkannya, dan memperjuangkannya.

Jika anak-anak sudah dipersiapkan sejak kecil dengan membaca yang benar dan mengetahui makna literalnya, maka langkah berikutnya akan relatif mudah. Bacaan yang baik ditambah dengan pengetahuan kepada arti, akan memudahkan untuk menghafal. Menghafal dengan arti jadi jauh lebih mudah dan mengantarkan kepada perenungan tanpa pandang waktu dan tempat. Di mana pun dan kapan pun bisa dilakukan. Dengan perenungan yang mendalam, pemahaman yang benar, bisa didapatkan.

tengah post

Pemahaman yang benar, akan mengantarkan kepada tindakan yang benar. Dan jika sudah dilakukan secara pribadi, maka perjuangan untuk memasyarakatkan paradigma qur’ani akan bisa dilakukan tanpa beban. Dengan jalan inilah, masyarakat dengan paradigma qur’ani bisa dibangun. Dengan paradigma qur’ani, maka komunikasi efektif kepada sesama, akan bisa dilakukan. Dengan demikian, seluruh ajakan kepada kebenaran akan mudah diterima, bahkan kemudian diperjuangkan, bukan hanya dalam bentuk kerjasaama, tetapi juga sinergi.

Akhirnya, marilah kita bina keluarga kita dengan baik. Manfaatkan masa pandemi ini dengan baik, terutama untuk membangun komunikasi efektif dengan anak-anak kita, sehingga mereka bisa menjadi generasi yang bisa kita ajak untuk bekerjasama dan sinergi menjalankan perintah Allah.

أللهم صل و سلم و بارك على سيدنا محمد, و على آل سيدنا محمد, كما صليت و سلّمت و باركت على سيدنا إبراهيم, و على آل سيدنا إبراهيم, فى العالمين إنك حميد مجيد

أللهم اغفر للمسلمين و المسلمات, و المؤمنين و المؤمنات, ألأحياءِ منهم و الأموات, إنك سميع قريب مجيب الدعوات, يا قاضي الحاجات

رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً, وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

رَبَّناَ تَقَبَّلْ مِناَّ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ, وَ تُبْ عَلَيْناَ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً, وَ فِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عباد الله, إن الله يأمر بالعدل و الإحسان, و إيتاء ذى القربى و ينهى عن الفخشاء و المنكر و البغي, يعظكم لعلكم تذكرون

فاذكروا الله العظيم يذكركم, و اشكروه على نعمه يزدْكم, و اسئلوه من فضله يعطِكم, و لذكر الله أكبر, والله يعلم ما تصنعون

Wassalamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

 

Berlangganan Berita Terbaru Sultrademo.co!

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.