Menggugah Drama So’ Tulus Gubernur Sultra

  • Whatsapp

Corona dalam perspektif sastra memiliki persamaan dengan rindu, Tidak berwujud tidak terasa tapi perlahan akan membunuh. Wabah pembunuh yang mengambil peringkat 1 dunia telah membuat seluruh sektor diseluruh dunia harus terjun bebas tanpa bisa berbuat apa-apa. Benar jika yang bisa kita lakukan adalah bersabar atau istilah yag terkenal adalah “Stay Home”. Stay Home merupakan bahasa sederhana yang memiliki tafsir mengerikan untuk mereka yang berpendapatan dibawah rata rata, yang pendapatannya sehari hanya bisa menutupi untuk makan sekeluarga selama kurang lebih 2*24 jam. Kira kira seprti itulah. Coba saja tanya kepada gojek , tukang becak atau tukang parkir berapa lama pendepatan mereka akan bertahan?.

Ekonomi dunia yang telah terpangkas 1 persen karena matinya usaha-usaha berkelas internasional telah membuat karyawan atau buruh dengan terpaksa harus di rumahkan bahkan ada yang harus menerima PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). karyawan yang menerima pula tidak bisa membantah banyak, hanya menggap itu adalah bagian dari takdir.

Bacaan Lainnya

Pemerintah telah melakukan upaya banyak meskipun kadang dipandang lelet oleh beberapa kalangn saya pula mengakui itu, yaa pemerintah terlalu lamban dalam operasi pemusnahan Covid19. Anggaran 405 triliun yang di potong dari beberapa kementrian diharapakan dapat menutupi Unstabilisasi economi Indonesia. Pada beberapa wilayahpun sama. Harus saya katakan lambat, kata itu saya lebih fokuskan ke Provinsi Sulawesi Tenggara. Mengapa tidak, sejak dinyatakan secara resmi bahwa telah terdapat 3 orang positif, sudah disaranakan agar segera memperketat perbatasan, pelabuhan, serta bandara karena itulah pintu keluar masuknya Covid19, tidak mungkin terbang atau di order seperti “Doti” pemerintah hanya harus menyiapkan alat Rapid Test untuk setiap orang yang masuk ke Sultra, dan sebelumnya melaweti Ruang Kotak segi empat bernama Mobile Sterilizer Chamber Serta diberikan masker lengkap dengan Handsanitizer, dan jika dianggap memiliki beberapa kemungkinan positif maka akan langsung diamankan ke Rumah Sakit (RS) atau diamankan ke beberapa kamar-kamar kosong milik Pemerintah Provinsi (PEMPROV) Sulawesi Tenggara (SULTRA) seperti Asrama Haji, LPMP, dan lain lain, itu jika dianggap RS tidak mencukupi. Sayangnya, semua itu tidak dilakukan dan berakhir pada pengesahan anggaran yang mencapai 400 milyar untuk dialihkan ke penanganan covid19, itu untuk provinsi saja belum lagi kabupaten kota.

Terlepas dari semua keteledoran yang dilakukan kita harus mengecek kembali eksistensi PEMPROV SULTRA dalam menyelelesaikan Covid19 yang dianggap lelet. Rp. 325 milyar yang akan digunakan serta Rp. 75 milyar sebagai cadangan, namun sama sekali hampir tidak ada yang terlihat dilapangan selain informasi Jumlah data ODP,OPD, OTG atau apalah yang mereka anggap itu adalah bagian operasi pada akhirnya jumlah yang positif terus meningkat. Justru, yang banyak andil dan terlihat sangat aktif serta turun langsung kelapangan adala pemerintah kabupaten dan kota. Penulis tidak ingin mengungkapkan keberanian gila mengganti seorang jendral yang sedang meimpin perang, tentu itu akan menjadi rasa paling sakit bagi prajuritnya. Bisa dibilang sama sakitnya dengan prajurit yang sedang pergi berperang kemudian dikirimin surat kekasihnya meminta mengakahiri hubungan, maka dapat dipastikan prajurit itu lebih baik berperang sampai mati ketimbang pulang kembali. Analogi sederhana diatas diperuntukan untuk mantan PLT Dirut RS Bahteramas yang diganti saat sedang menekan Virus Corona, Kala itu masih teringat jumlah positif masih berada diangka 5 orang. Sementara, sekarng sudah berjumlah tidak kurang dari 40 orang. Tapi, lagi lagi penulis telah komiteman untuk tidak membahasnya lebih jauh.

Sebelum disahkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) SULTRA dalam pengalihan anaggaran 400 Milyar dari beberapa infrastruktur yang yang belum dianggapa urgensi serta beberapa kegiatan yang masih bisa ditunda tahun depan, bahwasanya ada anggara yang disebut dana taktis sebesar Rp. 3 Milyar, entah kenapa anggaran tersebut hanya digunakan 700 Juta untuk pengadaan Alat Pelindung Diri (APD) dan sekitarnya, serta 600 Juta untuk operasional panitia Satgas. Apakah sedang menjalani masa pengiritan atau bagaiamana ?. masih ada 1,8 Milyar kurang kebih yang tidak digunakan. Padahal, bisa saja dibelanjakan seluruhnya untuk alat kesehatan yang jauh lebih bermanfaat agar kita tidak mendengar ada puskesmas yang memiliki 5 APD doang, Artinya apa, mereka hanya ditugaskan bekerja selama 5 hari. Lalu, Bagaimana dengan Upah tenaga medis yang bertaruh nyawa, yang tidak lagi memperdulikan keluarga kecuali untuk tanah SULTRA nya yang dicintai, yang dikucilkan, yang merasa hidup sendiri, yang pusing hanya untuk mencari tempat tinggal yang katanya akan ditambahkan ?. Mungkin itu hanya lah obat “Pakuli Biri” atau pemanis kata, toh hingga saata ini belum juga terlaksana. Tapi tidak apa, teman-teman pejuang kesehatan jangan khawatir, tidak tersuplai Financial, insya Allah trasfer do’a akan menyertai kalian dari seluruh warga Anoa.

Saat ini, Dinas Sosial (DINSOS) SULTRA telah melakukan pendataan untuk mengumpulkan warga yang akan mendapatkan bantuan SEMBAKO dengan alokasi pemerintah SULTRA sebesear 50 ribu kepala keluarga. Jika kita meghitung per satu sembako yang terdiri dari beras 10 KG, Gula 1 KG, Mie, Teh, Terigu, dsb., penulis mengkisarkan itu berada diangka Rp 250 ribu, atau palig tinggi sebesar Rp. 500 Ribu. Sekarang kita hitung dengan saksama, 500 ribu dikalikan 50. Ribu kepala keluarga maka totalnya hanya berada di angka Rp. 25 Milyar, itu sudah angka paling tinggi terkecuali akan diberikan setiap minggu selama selama dua bulan berturut turut maka barulah akan berada diangka 200 Milyar itu untuk dua minggu, lalau bagaiman jika tidak ?. Kabar menyedihkannya anggaran yang diberikan untuk 50 ribu kepala keluarga itu bukan bersumber dari Pemerintah Provinsi melainkan bersumber dari Kementrian Sosial dan bantunnya berupa (BLT) Bantuan Langsung Tunai sebesar Rp. 600.000 per kepala keluarga . Jika seprti itu maka angka Rp. 400 Milyar masih dalam keadaan sehat walafiat atau tidak kurang sedikitpun. Lalu mau diapakan anggaran tersebut ? sudah pasti ia akan dikemablikan ke negara, namun, pertanyaan selanjutnya adalah Apakah anggaran itu sengaja ditahan dan menunggu secara perlahan hingga Priodesasi Corona berakhir dengan tujuan proyek yang sudah ada pemiliknya bisa dilanjutkan tanpa ada pemotongan anggaran ? Penulis berharap itu hanyalah pikiran negatif saat merangkai tulisan ini.

Today. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) telah ditunjuk sebagai kuasa pengguna anggaran yang kemudaian akan diberikan kepada OPD/ Dina Dinas lain. Penulis hanya heran, menagapa bisa OPD harus mengurus Covid19. Jika sesuai pada profesonalisme maka, apakah Dinas Lingkungan hidup akan memberikan kepada rakyat halaman bersih tanpa virus ? lalu bagaimana bentuknya ? Apakah dinas ESDM akan memberikan Ore/Nikel secara gratis kepada warga sebagai bahan pokok untuk Sahur ?. penulis rasa seprti makan gula yang asin. Tingkat Probabilitas rasionalnya akan tinggi jika Dinas Pendidikan yang menggunakan dengan membantu kampus menutupi paket data mahasiswa yang belajar Online, seprti kampus diperbatasan kendari yang hanya mampu memberikan 3 GB untuk jangka waktu 32 hari, itu tetap dalam nuansa nalar yang benar jika kuliah online dengan aplikasi Zoom selama 1 menit sudah termasuk tiga mata kuliah untuk satu hari, tapi jika tidak maka kemungkinan semua mahasiswa akan mengelu dan berkata seprti yang di ungkapkan video anak yang viral “ helloww semua Mahasiswa bayar SPP dan tidak ada yang nunggak” sebuah kalimat dengan maksud bahwa jumlah kuota yang berikan tidak mencukupi.

Membahas Tentang Dinas Pendidikan, tentunya akan menyinggung bagaiamana meningkatkan kecerdasan anak bangsa. Penulis ingin sedikit menyinggung pemerintah provinsi terkhusus bapak Gubernur Sulawesi tenggara, bahwa bapak memiliki warga yang sedang berjuang diluar tanah kesayangan mereka, saat pandemi menutupi hampir seluruh tanah jawa utamanya jakarta, para petarung pendidikan ini memilih untuk tidak pulang, bukan karena tidak adanya biaya tapi mereka sadar bahwa pulang adalah pilihan paling buruk jika tidak ingin menambah kuota positif Covid19 ditanah kelahiran. Bapak gubernur penulis sadar bahwa hati bapak tidak sekeras kunci berangkas yang tidak bisa dibobol dengan sentuhan tulus, namun harus diketahui jika salah seorang dari warga SULTRA yang positif Corona menemui ajal maka jangankan mayat mereka, peti matinya saja sudah tidak akan bisa dilihat lagi oleh keluarga. Tentu itu akan menjadi pengalaman paling pahit seorang ibu yang tidak akan bisa dilupakan. Ada kurang lebih saratusan lebih orang dengan KTP dari kabupaten di SULTRA yang masih bertahan dengan segala kesabaran di ibukota, tidak ada pilihan lain selain tabah dan makan apa adanya, mencari tebengan WIFI untuk kuliah online serta buka puasa seadanya.

Penulis ingin cerita sedikit tentang seorang teman, Saat waktu sahur pertama tiba kami melakukan komunikasi via Chat, penulis bertanya “apa lauk sahur mu dinda?”. Sebelum ia menjawab, ia bertanya dahulu kapadaku “kalau kita kakanda ?” saya katakan “Alhamdulilah masih lengkap nasi serta air putih nya dinda”. Sementara dia dengan emot bersedih merangkai hurufnya “ Nasi dan Air mata kakanda”. Tidak banyak penulis bisa berbuat kecuali hanya menuliskan “yang Sabar dinda, Sedangkan kiamat memiliki masa waktu berakhir, apalagi hanya Corona”. Itulah keadaan nyata yang terjadi kepada Rakyat Bapak ditanah rantau yang sedang bertarung dan akan kembali membangun SULTRA menajadi lebih baik. Penulis menyarankan agar anggaran Rp. 400 Milyar itu bisa diperuntukkan pula untuk anak-anak bapak, tidak perlu banyak 0,25% dari jumlah total, saya yakin sudah akan bisa membantu kami tersenyum untuk seluruh putra putri Anoa dijagat Nusantara dan jika itu terlaksana bahkan jika tanah pertiwi harus merdeka untuk yang ketiga kali, Bapak akan tetap dikenang sebagai pemimpin yang mencintai rakyatnya. Tentunya, Akan menjadi cerita yang tidak elok jika ada anak SULTRA yang harus merampok hanya untuk makan. Itu tentu bisa terjadi ketika naluri bertahan hidup mereka muncul maka sifat kebinatangan pasti akan di wariskan kembali. Karena meminta kepada keluarga di kampung halaman yang sedang susah adalah pilhan Mahasiswa yang sedang sakit jiwa.

Terimakasih kepada Bapak, penulis berharap anggaran 400 M itu digunakan sebaik baik dan sebenar benarnya untuk kebutuhan rakyat selama era covid19, jangan lupa pula menyelipkan untuk memeprbaiki ekonomi SULTRA saat masa pemulihan telah tiba. Penulis mendengar bahwa saat hari lahir SULTRA ke 56 Bapak mengungkapkan behwa para Dinas Dinas bergerak begitu lambat dan lelet menangani covid19, memikirkan kalimat itu terkadang saya menyesal menolak tawaran bapak menjadi stuf khusus saat acara Bincang Sultra di jakarta Tempo hari. Bukan karena kesulita biaya, tapi karena penulis tidak bisa berada disisi bapak memberikan saran saran yang kontruktif, taktis serta bergerak cepat dan cermat, menyelesaikan permasalahan Covid ini.

Billahitaufik Walhidayah
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

  • Whatsapp

Pos terkait