Renungan Ramadhan 1443 H ; LAILATUL QADAR

Oleh : Makmur Ibnu  Hadjar

Salah  satu  momentum sakral  dan transcendent time yang dinantikan oleh orang  yang berpuasa (beriman) dalam bulan Ramadhan seperti saat ini, adalah Lailatul Qadar. Secara harfiah Lailatul  Qadar berarti “malam penentuan”, atau “malam  kepastian”,  jika kata qadar disetarakan dengan kata taqdir. Tetapi ada juga intelektual Islam (baca ulama) mengartikan Lailatul Qadar  sebagai “Malam Kemahakuasaan”  jika kata qadar itu dipahami setara dengan kata al-Qadir, yang artinya “Yang Maha Kuasa”.

Bacaan Lainnya

Dalam Qur’an Suci (Surat Al Qadr), digambarkan secara ringkas tentang Lailatul Qadar itu, yang dikaitkan dengan malam diturunkannya Al Qur’an, dimana dilukiskan bahwa ALLAH menurunkan Al Qur’an pada malam Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari pada seribu bulan (Q 97:1-3). Pada malam tersebut,  Jibril dan para malaikat lainnya turun dengan membawa segala rakhmat bagi alam semesta serta bumi dan penghuninya (Q 97:4), khususnya umat  manusia.

Pertanyaan kita selanjutnya adalah,  “kenapa ALLAH Subhana Wata’ala mengaitkan kemuliaan Lailatul Qadar itu dengan variable  “waktu”,  kenapa bukannya dengan varible lain. Maksudnya adalah kenapa ALLAH Subhana Wata’ala memberi hidayah dalam bentuk amal pada malam Lailatul Qadar itu yang nilai instristiknya setara  dengan amal ibadah seribu bulan, bukannya setara secara kuantitas dengan  variable yang lain, misalnya setara dengan jumlah daun disemua hutan di permukaan bumi atau  setara dengan jumlah butir pasir di pantai ??.

Nalar atau akal  sehat  kita, secara relatif harus bisa menyelusuri hikmahnya. Bahwa dari  sekian banyak  variable massa di alam ini – yang jumlahnya tak terhingga,  maka variable  “waktu”, adalah satu-satunya variable yang ajeg dan konsisten dimensi kuantitasnya. Jika ALLAH menggunakan ukuran variable lain, mungkin terjadi ketidakadilan.

Misalnya kalau memakai ukuran jumlah daun di hutan maka antara satu generasai dengan generasi yang lain, jelas akan berbeda jumlah hidayah amalnya karena jumlah daun di hutan  senantiasa berubah, demikian pula misalnya jika dengan jumlah butiran pasiir di pantai, tetap juga tidak adil, karena oleh proses alamiah sehingga jumlahnya pasir di pantai selalu berubah-ubah.

Satu-satunya variable yang sungguh mengandung azas keadilan untuk semua umat manusia dari jaman Nabi Adam sampai Rasulullah Muhammad SAW, dan sampai dengan hari kiamat adalah “Varible Waktu”, karena waktu memiliki unsur  kepastian (eksakta).

Jadi hidayah dalam bentuk amal, yang nilai setara dengan  seribu bulan itu akan dinikmati oleh umat Muhammad SAW sepanjang masa dalam ukuran yang sama. Disinilah letak keadilan dan kemahakusaan ALLAH, bahwa umat yang terdahulu, umat sekarang dan umat pada masa yang akan datang, ukuran hidayah yang diterima adalah sama, dalam konteks  Lailatul Qadar itu.

Dengan pengertian itu, Lailatul Qadar memang merupakan malam penentuan dan malam “Kemahakuasaan ALLAH”. Ini akan semakin jelas jika dikaitkan dengan kehadiran Qur’an Suci, seperti yang ditulis oleh Nurcholish Madjid (2002); bahwa tidak hanya mempengaruhi dan membawa perubahan kepada kaum Muslimin saja, melainkan  pengaruhnya baik secara langsung atau tidak langsung juga mempengaruhi dan membawa perubahan kepada seluruh peradaban umat manusia.

Dalam prespektif yang lain, yakni pada  konteks pengertian seribu bulan itu,  Abdullah Yusuf Ali sebagaimana yang dikutip oleh Nurcholish Madjid, bahwa Lailatul Qadar  sebagai moment mistis, yang menurut beliau pemahaman lebih mulia dari seribu bulan itu tidak secara harfiah, tetapi sebagai simbolisasi bahwa Lailatul Qadar mengatasi waktu (transcends time), karena malam itu adalah titik awal  melenyapkan Ramadhan kebodohan, dan titik awal datangnya suatu pencerahan peradaban umat manusia, yang sumbernya dari wilayah padang pasir yang tandus, dengan peradaban yang  jahiliyah,.  Wallahuallam bissawab. 

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait