Sambut Konferwil Ke-5, PWNU Sultra Gelar Seminar Nasional Moderasi Beragama

Direktur PD dan Pontren Kementerian Agama RI KH. Waryono Abdul Ghafur

Kendari, sultrademo – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Tenggara menyelenggarakan Seminar Nasional pada  Rabu, 30 Maret 2022. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka menyambut Konferwil ke-5 ini mengusung tema “NU dan Pengarusutamaan Moderasi Beragama Berbasis Madrasah Dan Pondok Pesantren”  dimoderatori oleh Dr. H. Abdul Muiz Amir, M.Th.I. Kegiatan ini dilakukan secara daring melalui Zoom Meeting dan live streaming You Tube PWNU SULTRA CHANNEL.

Dalam sambutannya Kakanwil Kemenag Sulawesi Tenggara H. Zainal Mustamin menyampaikan pentingnya agar menginternalisasi nilai-nilai moderasi beragama di tengah-tengah masyarakat, ekosistem pendidikan melalui madrasah dan pondok pesantren.” Di samping itu, Kakanwil  juga memberikan apresiasi kepada panitia  yang berusaha  mengadakan kegiatan ini. “Secara  langsung PWNU Sultra telah  membantu pekerjaaan Kemenag Sultra untuk “membumikan” sikap moderasi beragama di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Bacaan Lainnya

Sementara itu Ketua Tanfidziyah NU Sultra KH. Muslim mengucakan terima kasih kepada narasumber yang telah bersedia memberikan materi. Oleh karena itu, kegiatan seperti ini pada dasarnya sangat dibutuhkan di tengah masyarakat agar moderasi beragama tersebut dapat lebih cepat terjangkau agar moderasi beragama dapat dipahami masyarakat hingga di pesolok daerah Sultra.

Dalam paparannya, Direktur PD dan Pontren Kementerian Agama RI KH. Waryono Abdul Ghafur mengatakan rumusan moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama –yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum–berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa”

“NU memiliki tiga peran penting dalam moderasi beragama. 1) sikap dasar kebangsaan NU, yakni keseimbangan antara ukhuwah Islamiyah, ukhuwah basyariyah, dan ukhuwah wathaniyah. 2)  NU tampil sebagai organisasi garda terdepan yang mengusung politik kebangsaan, semangat keragaman dan pluralitas di Indonesia. 3) Kehadiran NU sebagai cahaya penerang dari maraknya perbedaan, sukuisme, primordialisme, dan fanatisme berlebihan,”paparnya

Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah Pimpinan dan Pengurus Pondok Pesantren se-Sulawesi Tenggara, Kepala Madrasah (MI, MTs, dan MA) se-Sulawesi Tenggara, serta jajaran PWNU Sulawesi Tenggara. Acara seminar kemudian diakhiri dengan penyerahan sertifikat kepada narasumber oleh Ketua Panitia Konferwil ke-5, Dr. Abbas Tekeng, M.A.

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Editor: MA

Pos terkait