Unaaha, Sultrademo.co- Sidang perkara lanjutan PT Naga Bara Perkasa (NBP) di Pengadilan Negeri Unaaha oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendatangkan dua saksi.

Kedua saksi tersebut dalam keterangannya menyebut aktivitas PT NBP mengeruk perut bumi (mengambil ore nikel red) di kawasan hutan lindung tanpa izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH) di Desa Molore, Kecamatan Langgikima, Konawe Utara (Konut).

Dihadapan majelis hakim via video conference yang diikuti oleh tujuh terdakwa di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas llB Unaaha, salah satu saksi Yani membeberkan, dia bersama rekannya tiga orang dari Polres Konut dan satu orang dari Polisi Kehutanan langsung menuju lokasi PT NBP.

“Pada 22 Maret 2020, kami terima informasi dari masyarakat bahwa ada penambangan di kawasan hutan lindung, setelah mengetahui, kami diperintahkan kepada pimpinan untuk ke lokasi,” beber Yani.

Dilokasi tersebut, lanjut dia, pihaknya menemukan tujuh orang diantaranya empat orang sedang menggunakan alat berat excavator sedang beraktivitas atau sedang mengeruk ore nikel. Sedang dua orang lainnya sedang mengawasi alat tersebut.

“Kami bersama tim langsung menghentikan aktivitas penambangan tersebut. Kemudian kami tanyakan ini perusahan apa, nah salah satu dari terdakwa mengatakan bahwa ini perusahan PT NBP. Dilokasi, selain menemukan alat berat, kami juga menemukan beberapa tumpukan ore nikel. Setelah kami amankan tersangka dan juga alat bukti berupa ore nikel, keenam tersangka kami bawa ke Polres Konut,” ungkapnya.

Baca Juga :  Ini Update Kasus Covid-19 Sultra Per 14 September

Tambah dia, lahan yang digunakan berada di lokasi atau Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT NBP dan pemiliknya adalah Tuta Nafisa dan ke enam orang adalah karyawan PT NBP. “Kami diperintah untuk menambang disini, kami diperintah oleh Tuta Nafisa,” kata Yani menirukan ucapan salah satu terdakwa saat di lokasi.

Sementara itu penangkapan terhadap direktur PT NBP Tuta Nafisa, kata Yani, dia diamankan di Kota Kendari saat hendak mau melarikan diri ke Ibu Kota Jakarta.

Kemudian, saksi kedua, Asriadi menurutkan, saat tiba di lokasi lahan yang digunakan oleh PT NBP itu sudah terbuka, dan sedang dilakukan Penambangan Nikel. “Dislokasi kami tidak temukan ada plan izin penambangan, maupun batas-batas penambangan,” ujarnya.

Pada saat pengambilan titik koordinat di lokasi lahan PT NBP bersama dengan tim Polres Konut. Asriadi kemudian mengambil JPS Garmin Montana 680, stelah itu dia ke kantor dan membuat Pemetaan/peta untuk mengetahui wilayah mereka gunakan. Ternyata lahan tersebut memang berada di dalam kawasan hutan lindung.

“Setelah kami cek bersama kehutanan mereka menambang di kawasan hutan lindung. Mereka menambang tidak memiliki izin pinjam pakai,” lanjutnya.

Asriadi mengatakan, saat itu dia belum mengetahui lahan itu digunakan oleh perusahaan PT NBP. Namun setelah dilakukan penyelidikan dan enam orang karyawan juga direktur PT NBP di tahan baru diketahui lahan tersebut milik PT NBP.

Laporan : Jumardin Engga

Komentar