BEM SI Beri Tenggat 18 Hari, Pemerintah Diminta Selamatkan Rupiah dari Pelemahan

Ketgam : Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) melayangkan ultimatum kepada pemerintah. Foto: IG @kontannews

Jakarta, Sultrademo.co – Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) melayangkan ultimatum kepada pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret dalam mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah yang disebut telah menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS.

Mahasiswa memberikan waktu selama 18 hari kepada pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi nasional. Jika dalam kurun waktu tersebut tidak terlihat adanya perbaikan, BEM SI mengancam akan menggelar aksi besar-besaran bertajuk “Reformasi Jilid II”.

Bacaan Lainnya
 

Ancaman aksi tersebut mendapat tanggapan dari sejumlah pejabat tinggi negara, mulai dari Kapolri, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), hingga pihak Istana.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa Polri menghormati kebebasan masyarakat dalam menyampaikan pendapat, namun mengingatkan agar seluruh kegiatan dilakukan secara tertib dan sesuai aturan.

“Terkait dengan kegiatan di masyarakat, tentu kita selalu mengimbau agar semua kegiatan dilaksanakan dalam bentuk yang tertib,” kata Sigit di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Menurutnya, Polri akan terus mengawal setiap penyampaian aspirasi masyarakat agar berlangsung aman dan kondusif.

Sikap serupa juga disampaikan Kepala BIN Herindra. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap menjaga persatuan di tengah berbagai dinamika yang berkembang.

“Ah, yang penting kita semua harus menjaga ya, persatuan kesatuan,” ujar Herindra di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Ia menambahkan, “Jangan sampai ada hal yang tidak menguntungkan bagi kita semua ya.”

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan pemerintah menerima aspirasi mahasiswa sebagai masukan dalam proses evaluasi kebijakan.

“Ya tentunya kami menerima aspirasi tersebut ya, sebagai sebuah masukan tentunya kepada pemerintah,” ujarnya.

Namun demikian, Prasetyo menekankan bahwa persoalan ekonomi tidak selalu dapat diselesaikan dalam waktu singkat atau sesuai tenggat yang ditentukan.

“Ya, kan mohon maaf ya, tidak semua atau tidak segala sesuatu itu bisa dicapai dengan sebuah tenggat waktu yang sudah ditetapkan. Kan begitu. Tidak, tidak semuanya bisa seperti itu,” tegasnya.

Meski begitu, ia memastikan pemerintah menangkap pesan utama yang disampaikan mahasiswa, yakni dorongan agar pemerintah terus bekerja keras dalam memperbaiki kondisi ekonomi nasional.

Sebelumnya, BEM SI telah memulai rangkaian aksinya melalui demonstrasi bertajuk “Rupiah Sekarat, Rakyat Melarat” yang digelar di depan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah.
Ketua BEM Universitas Sebelas Maret (UNS), Kailani Rizqi Pratama, menjelaskan bahwa angka 18 hari dipilih sebagai simbol pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini menjadi sorotan.

“Kalau kita melihat hari ini, untuk rupiah yang melemah sebanyak Rp18.000, kami hari ini berikan tenggat waktu selama 18 hari untuk memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia,” kata Kailani dalam aksi tersebut.

Ia menegaskan, apabila hingga batas waktu yang ditentukan tidak terdapat langkah nyata dari pemerintah dalam memperbaiki kondisi ekonomi, mahasiswa akan meningkatkan eskalasi aksi dengan rencana penyegelan kantor Kementerian Keuangan.

Ultimatum tersebut menjadi sinyal meningkatnya tekanan dari kalangan mahasiswa terhadap pemerintah terkait kondisi ekonomi nasional, sekaligus membuka peluang terjadinya gelombang aksi yang lebih besar dalam beberapa pekan ke depan.

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Penulis: Arini Triana Suci R

Pos terkait