HARI RAYA IDUL FITRI DAN KAITANNYA DENGAN PERSATUAN BANGSA

  • Whatsapp

Oleh R. Siti Zuhro
(Presidium MN KAHMI 2017-2022)

Tujuan puasa sebagaimana tertulis dalam surat al Baqarah ayat 183 adalah “untuk menjadi orang bertaqwa”
_(la’allakum tattaqun)._
Orang bertaqwa adalah orang yang mampu mencegah hal yang munkar (negatif dan destruktif).

Bacaan Lainnya

*Puasa pada intinya adalah mendidik manusia untuk mampu mengontrol dirinya dari perbuatan yang negatif dan destruktif.*

Puasa mengajarkan pada manusia untuk mengingatkan bahwa sebagai _homo economicus,_ harta dan kekuasaan itu penting, tapi manusia harus mampu mengontrol dirinya agar tdk menghalalkan segala cara karena di sisi lain manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan sangat bergantung pada orang lain.

Pendidikan untuk mengontrol diri itu penting karena seperti dikatakan Tuhan dalam surat Al ‘Adiat ayat 6-8 bahwa manusia itu pada dasarnya ingkar, bahwa manusia mengakui keingkarannya itu karena manusia sangat cinta pada harta (juga kekuasaan – _innal insana lirobbihi lakanud, wainnahu ‘ala dzalika lasyahid, wainnahu lihubbil khairi lasyadid)._

Dengan gemblengan sebulan penuh tentang pentingnya belajar menahan diri untuk menjadi orang yang sadar tentang pentingnya menjadi makhluk sosial, Idul Fitri merupakan momen untuk mewujudkan hal tsb dalam bentuk saling maaf memaafkan, rekonsiliasi, guna merajut persatuan dan kebersamaan.

*Idul Fitri merupakan bentuk simbolik dan sarana yang ampuh untuk saling memahami diri tentang pentingnya membangun kebersamaan dan persatuan.*

*Kemakmuran tdk mungkin tercapai tanpa kerjasama dan persatuan.*

Untuk itu penting bagi bangsa ini kembali menghidupkan nilai gotong royong yang menjadi inti dari PANCASILA.
Gotong royong tidak berarti membuat kita menjadi bangsa yang _altruistic_ (perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri).
Perilaku ini merupakan kebajikan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa agama, karena dalam gotong royong tiap-tiap kita dituntut untuk mendedikasikan kemampuan dan profesionalitas kita sesuai dengan kapabilitas dan profesi kita.

Sebagai bangsa kita adalah tubuh yang satu dengan masing-masing organ bekerja sesuai dengan fungsi dan perannya.

Gotong royong bukan berarti semua kita mengerjakan apa saja secara bersama atau tanpa pembagian kerja, karena kita bukan makhluk yang serba bisa.

  • Whatsapp

Pos terkait