Menafsirkan Ayat dengan Ayat

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengasuh Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO Mlagen, Rembang; Guru Utama di Rumah Perkaderan di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monash Institute Semarang; Pengajar di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI.

Ayat-ayat al-Qur’an tersusun secara tidak tematik, tetapi membentuk sebuah rangkaian melingkar bagaikan untaian mutiara sampai-sampai tidak diketahui ujung pangkalnya. Karena itulah, al-Biqa’i menulis karya tafsir berjudul Nadhm al-Durar fii Tanaasub al-Aayaati wa al-Suwar (Untaian Mutiara: Korelasi Antar Ayat dan Surat) dan al-Suyuthi menulis Tanasuq al-Durar fii Tanasub al-Suwar (Harmoni mutiara: Korelasi Antar Surat). Di samping ada korelasi antar ayat yang sebelum dan sesudahnya, sesungguhnya terdapat interkoneksi ayat-ayat yang berjauhan karena terdapat dalam surat yang berbeda. Bahkan, terdapat banyak ayat yang jika tidak dikoneksikan dengan ayat lain yang letaknya berjauhan, bisa menimbulkan pemahaman yang tidak tepat. Dalam konteks membangun sebuah pemahaman atau penafsiran, inilah yang disebut dengan tafsir ayat dengan ayat.

Bacaan Lainnya

Secara umum, ayat yang harus diinterkoneksikan dengan ayat lain untuk mendapatkan pemahaman yang tepat, di dalamnya terdapat: Pertama, kata yang sama. Kata yang sama ini menimbulkan pemahaman yang berbeda, biasanya karena memiliki makna awal yang berbeda. Perbedaan makna itu terjadi karena sebuah kata seringkali mengalami perluasan makna. Di dalam al-Qur’an, di antara yang menyebabkan sebuah kata mengalami peluasan makna adalah ideologisasi kata. Di antara ayat yang bahkan pernah disalahpahami oleh para sahabat adalah al-An’am: 82.

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (al-An’am: 82).

Ketika ayat ini dibacakan oleh Rasulullah saw., sebagian sahabat merasa berat. Mereka berpandangan bahwa mereka tidak akan mampu memenuhi kriteria untuk menjadi orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan petunjuk. Sebab, syaratnya adalah tidak dhalim. Mereka kemudian menyampaikan itu kepada Nabi saw.. Nabi kemudian mengatakan bahwa pemahaman mereka itu tidak tepat. Nabi bersabda: “Bukankah kalian pernah mendengar apa yang dinasehatkan oleh Luqman kepada putranya?”. Nabi kemudian membaca QS. Luqman: 13.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Luqman: 13)

Di dalam kedua ayat tersebut ada dua kata dhulm. Makna dasar dhulm adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Syirk disebut juga dengan dhulm, karena dia menempatkan yang bukan Tuhan sebagai Tuhan. Karena objeknya adalah Tuhan, dzat yang maha agung, maka tindakan itu disebut sebagai kedhaliman yang besar (dhulmun adhîm).

Kedua, kata yang berbeda, tetapi bermakna sama. Dalam kasus ini, sebuah ayat bahkan bisa menimbulkan kebingungan dan kekeliruan jika tidak dihubungkan dengan ayat lain yang di dalamnya terdapat kata lain yang bermakna sama alias sinonim. Di antara contoh ayat yang sering menyebabkan kesalahpahaman adalah al-Baqarah: 6.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. (al-Baqarah: 6)

Ayat ini menimbulkan kebingungan karena pemahaman umum tentang orang kafir adalah orang tidak beriman. Sedangkan di dalam ayat ini dinyatakan bahwa orang-orang kafir, baik diberi peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman. Seolah-olah ayat ini tidak memberikan makna substansial apa pun. Sebab, sekali lagi, orang kafir memang tidak beriman. Dan jika mereka diberi peringatan atau tidak diberi peringatan tidak beriman, lalu kenapa Allah mewajibkan dakwah kepada orang-orang kafir? Tentu perintah dakwah ini seolah tidak diperlukan. Sebab, orang yang diberi peringatan tetap saja tidak akan beriman.

Namun, pemahaman itu akan berubah jika QS. al-Baqarah: 6 dihubungkan dengan ayat-ayat yang di dalamnya terdapat kata yang berakar dari ka-ta-ma (menyembunyikan). Sebab, kata makna paling awal ka-fa-ra sesungguhnya adalah menutupi atau menyembunyikan (Inggris: to cover). Karena makna inilah, kata kâfir awalnya bermakna petani. Sebab, petani adalah orang yang menanam tanaman yang pada umumnya dilakukan dengan cara memasukkan biji ke dalam lubang tanah, lalu menutupinya agar tidak dimakan burung. Makna petani ini masih digunakan oleh al-Qur’an di dalam al-Hadid: 20.

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (al-Hadid: 20)

Karena itu, orang-orang yang sesungguhnya sudah mengetahui kebenaran, tetapi karena motif tertentu yang bersifat duniawi yang mereka anggap sebagai keuntungan atau menguntungkan, menutupinya untuk menyembunyikannya. Mereka tidak mau mengakui, sehingga kafir kemudian bermakna sebagai orang yang ingkar. Orang-orang yang sebenarnya sudah tahu tentang kebenaran, walaupun sudah diberi peringatan tentu saja tidak akan pernah mau beriman. Sebab, mereka sebenarnya tidak memerlukan peringatan itu, karena memang sudah mengetahuinya. Hal ini diungkapkan dalam QS. al-Baqarah: 159 dan 174.

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati, (al-Baqarah: 159)

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۙ أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. (al-Baqarah: 174)

Ketiga, konteks yang sama atau berkaitan. Kesamaan konteks bisa sangat membantu untuk membangun konstruksi pemahaman, sehingga ayat-ayat sebelumnya jika hanya dibaca secara mandiri atau tidak dikoneksikan sulit dipahami, atau bahkan melahirkan pemahaman yang keliru, kemudian bisa melahirkan pemahaman baru yang lebih rasional. Di antara contohnya adalah keadaan Nabi Isa’ saat ini. Al-Qur’an memberikan semacam puzzle-puzzle di ayat-ayat yang letaknya di surat-surat yang berbeda yang jika semuanya dihubungkan, maka akan menghasilkan pemahaman bahwa Nabi Isa tidak mati, tetapi hanya wafat. Dan wafat yang dialami oleh Nabi Isa adalah tidur panjang sejak makar untuk menyalib beliau sampai nanti menjelang hari kiamat beliau dibangkitkan.

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ ۚ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا

… dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (al-Nisa’: 157)

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۖ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku mewafatkanmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”. (Ali Imran: 55)

Yang menjadi masalah adalah frase “mewafatkanmu”. Kata wafat sering juga dipahami dengan mati. Ini bisa menyebabkan pemahaman keliru bahwa Nabi Isa sudah meninggal, kemudian diangkat oleh Allah. Padahal Nabi Isa tidak meninggal. Argumen pemahaman ini akan kuat jika ayat ini dihubungkan dengan QS. al-Zumar: 42.

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Allah mewafatkan jiwa (orang) ketika matinya dan jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (al-Zumar: 42)

Lalu al-Qur’an seolah memberikan jawaban atas pertanyaan bagaimana bisa orang mengalami tidur dalam jangka waktu yang sangat panjang sampai ribuan tahun. Al-Qur’an memberikan jawaban ini di dalam al-Kahfi: 25.

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). (al-Kahfi: 25)

Interkoneksi berbagai ayat itu kemudian melahirkan konstruksi pemahaman yang utuh mengenai bagaimana sesungguhnya keadaan Nabi Isa sekarang sampai nanti diutus kembali menjelang hari kiamat. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Catatan Redaksi: Artikel telah terbit padaRabu (17/11/2021) di baladena.id dengan judul yang sama.

Pos terkait