Kendari, Sultrademo.co — Di tengah laju pertumbuhan penduduk dan aktivitas urban yang kian dinamis, Pemerintah Kota Kendari dihadapkan pada satu persoalan klasik yang terus berkembang: sampah. Bukan sekadar isu kebersihan, pengelolaan sampah kini menjelma menjadi indikator penting kualitas tata kelola kota, bahkan menjadi tolok ukur dalam penilaian Adipura di tingkat nasional.
Kesadaran itulah yang mendorong Pemerintah Kota Kendari menggelar Ekspose Kinerja Persampahan di Aula Samaturu, Senin (16/3/2026). Forum ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan ruang refleksi bersama untuk membaca capaian, mengidentifikasi persoalan, sekaligus merumuskan strategi ke depan.
Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak lagi bisa dipandang sebagai isu sektoral. Ia menyebut, dinamika kota yang terus bertumbuh berdampak langsung pada peningkatan volume sampah yang harus dikelola setiap hari.
Data terbaru menunjukkan lonjakan signifikan. Jika sebelumnya timbulan sampah berada di kisaran 260 ton per hari, kini angkanya telah menembus sekitar 350 ton per hari. Artinya, terjadi peningkatan hampir 94 ton setiap harinya—angka yang tidak kecil bagi sistem pengelolaan kota.
“Kenaikan ini menjadi tantangan besar bagi kita semua. Tidak mungkin diselesaikan oleh satu instansi saja,” ujar Siska.
Menurutnya, pendekatan parsial sudah tidak relevan. Pengelolaan sampah membutuhkan orkestrasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, perangkat kelurahan, hingga partisipasi aktif masyarakat. Tanpa integrasi yang kuat, upaya mencapai kota bersih akan sulit terwujud.
Dari Hulu ke Hilir: Mengubah Paradigma Pengelolaan
Pendekatan yang kini didorong Pemerintah Kota Kendari adalah pengelolaan sampah berbasis sistem terintegrasi. Artinya, penanganan tidak hanya difokuskan pada hilir—seperti pengangkutan dan pembuangan—tetapi juga pada hulu, yakni pengurangan dan pemilahan dari sumbernya.
Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi dan Papua, Azri Rasul, menjelaskan bahwa dalam skema penilaian Adipura terdapat 16 komponen utama yang menjadi indikator kota bersih. Komponen tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari kawasan permukiman, fasilitas publik, pasar, sekolah, hingga perkantoran dan pengelolaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Menariknya, kawasan permukiman menjadi sektor dengan bobot penilaian tertinggi, yakni sekitar 19,61 persen. Hal ini menegaskan bahwa kunci utama pengelolaan sampah terletak pada perilaku masyarakat di tingkat rumah tangga.
“Pemilahan sampah paling efektif dilakukan dari sumbernya. Karena itu, peran lurah, RT, dan RW sangat penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat,” ujar Azri.
Ia menekankan bahwa perubahan perilaku menjadi fondasi utama. Tanpa kesadaran kolektif masyarakat, sebaik apa pun sistem yang dibangun pemerintah tidak akan berjalan optimal.
Bank Sampah dan Peran Komunitas
Salah satu strategi yang terus diperkuat adalah pembentukan Bank Sampah Unit di tingkat kelurahan. Program ini bukan hanya berfungsi sebagai sarana pengelolaan sampah, tetapi juga sebagai instrumen edukasi dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui bank sampah, warga didorong untuk memilah sampah berdasarkan jenisnya, sekaligus mendapatkan nilai ekonomi dari sampah yang dapat didaur ulang. Skema ini diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan.
Namun, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Masih terdapat kecenderungan sebagian pihak yang menganggap pengelolaan sampah sepenuhnya menjadi tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup. Padahal, setiap organisasi perangkat daerah memiliki peran strategis dalam menjaga kebersihan di lingkungannya masing-masing.
“Kebersihan lingkungan kantor mencerminkan kepedulian pimpinan instansi terhadap lingkungan. Ini harus menjadi budaya bersama,” kata Azri.
Evaluasi Adipura: Cermin Kinerja Kota
Dalam evaluasi sementara penilaian Adipura 2025, Kota Kendari memperoleh nilai 59. Nilai tersebut merupakan akumulasi dari berbagai komponen, di antaranya aspek pengelolaan dan kebijakan sebesar 17 poin, sumber daya manusia dan fasilitas 21,06 poin, serta capaian kinerja 25,48 poin.
Angka ini menjadi cermin bahwa masih terdapat ruang perbaikan yang perlu dioptimalkan. Pemerintah Kota Kendari menyadari, peningkatan nilai Adipura bukan semata soal prestise, melainkan refleksi dari kualitas lingkungan hidup yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Melalui forum ekspose ini, berbagai capaian yang telah diraih dievaluasi secara terbuka. Program yang berjalan ditelaah kembali, sementara hambatan yang muncul dibahas bersama untuk dicarikan solusi.
Sinergi sebagai Kunci
Ke depan, Pemerintah Kota Kendari menaruh harapan besar pada penguatan sinergi lintas sektor. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha menjadi kunci dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Langkah-langkah strategis seperti peningkatan edukasi, penguatan kelembagaan di tingkat kelurahan, serta optimalisasi fasilitas pengelolaan sampah akan terus didorong. Di saat yang sama, perubahan perilaku masyarakat tetap menjadi prioritas utama.
Pada akhirnya, persoalan sampah bukan sekadar urusan teknis, melainkan cerminan budaya dan kesadaran kolektif sebuah kota. Kendari, dengan segala dinamika dan tantangannya, kini tengah menapaki jalan menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, partisipatif, dan berkelanjutan.
Upaya ini mungkin tidak instan, tetapi dengan komitmen yang kuat dan kerja bersama, cita-cita menghadirkan kota yang bersih, sehat, dan layak huni bukanlah hal yang mustahil. (Adv)






