Menjaga Stabilitas Harga Jelang Lebaran, Pemkot Kendari Intensifkan Pengawasan Pasar

Kendari, Sultrademo.co Menjelang Idul Fitri, dinamika harga kebutuhan pokok menjadi perhatian utama pemerintah daerah. Peningkatan permintaan yang lazim terjadi setiap tahun berpotensi memicu lonjakan harga jika tidak diantisipasi secara cermat. Dalam konteks inilah, Pemerintah Kota Kendari mengambil langkah proaktif melalui inspeksi langsung ke sejumlah pasar tradisional.

Dipimpin Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, inspeksi mendadak (sidak) digelar di empat titik utama, yakni Pasar Mandonga, Pasar Sentral Kendari, Pasar Baruga, dan Pasar Andonohu, Selasa (17/3/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memastikan ketersediaan stok sekaligus menjaga stabilitas harga bahan pokok di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat.

Bacaan Lainnya
 

Dalam sidak tersebut, wali kota turut didampingi Wakil Wali Kota serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), termasuk pimpinan DPRD, kepolisian, TNI, kejaksaan, Badan Pusat Statistik, dan sejumlah kepala organisasi perangkat daerah. Kehadiran lintas institusi ini menegaskan bahwa pengendalian harga merupakan tanggung jawab bersama.

Indikasi Kenaikan Harga, Namun Masih Terkendali

Di Pasar Mandonga, salah satu pasar tradisional terbesar di Kota Kendari, ditemukan adanya kenaikan harga pada sejumlah komoditas strategis. Bawang merah, misalnya, naik menjadi Rp38 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp30 ribu. Komoditas lain seperti tomat dan cabai juga mengalami kenaikan, masing-masing menjadi Rp15 ribu dan Rp40 ribu per kilogram.

Harga bawang putih tercatat berada di kisaran Rp50 ribu per kilogram, sementara daging sapi mencapai Rp150 ribu per kilogram, naik dari Rp140 ribu. Meski demikian, pemerintah menilai kenaikan tersebut masih dalam batas wajar dan belum mengganggu daya beli masyarakat secara signifikan.

“Memang ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan, tetapi masih dalam batas yang bisa dikendalikan. Yang terpenting stok tetap tersedia,” ujar Siska.

Pernyataan ini mencerminkan pendekatan pemerintah yang tidak hanya berfokus pada harga, tetapi juga pada aspek ketersediaan barang sebagai faktor kunci stabilitas pasar.

Pasar Sentral dan Baruga: Dinamika Harga yang Variatif

Pemantauan kemudian dilanjutkan ke Pasar Sentral Kendari. Di lokasi ini, harga telur mengalami kenaikan menjadi Rp70 ribu hingga Rp75 ribu per rak, dari sebelumnya Rp60 ribu hingga Rp67 ribu. Sementara itu, ayam potong dijual di kisaran Rp70 ribu hingga Rp90 ribu per ekor, tergantung ukuran dan kualitas.

Di Pasar Baruga, fluktuasi harga cenderung lebih moderat. Komoditas seperti kentang dan wortel hanya mengalami kenaikan tipis, masing-masing berada di kisaran Rp23 ribu dan Rp18 ribu per kilogram. Kondisi ini menunjukkan bahwa tidak semua komoditas mengalami tekanan harga yang sama, tergantung pada pasokan dan distribusi.

Selain melakukan pemantauan, wali kota juga berinteraksi langsung dengan pedagang dan pembeli. Bahkan, ia sempat membeli sejumlah kebutuhan pokok seperti sayuran dan ikan. Langkah ini tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga menjadi bentuk dukungan nyata terhadap keberlangsungan ekonomi pelaku usaha kecil di pasar tradisional.

Tak hanya soal harga dan stok, perhatian pemerintah juga tertuju pada aspek kebersihan pasar. Di setiap lokasi sidak, wali kota turut meninjau area pembuangan sampah untuk memastikan lingkungan pasar tetap terjaga.

Hal ini menjadi penting mengingat aktivitas pasar cenderung meningkat menjelang hari besar keagamaan, yang berpotensi menambah volume sampah secara signifikan. Kebersihan pasar tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat.

Penguatan Sistem dan Layanan Pasar

Kunjungan ke Pasar Andonohu menjadi penutup rangkaian sidak. Di lokasi ini, selain memantau harga, wali kota juga meninjau kantor pengelola pasar. Fokusnya adalah memastikan bahwa sistem pelayanan kepada pedagang dan pembeli berjalan optimal.

Pengelolaan pasar yang baik dinilai menjadi salah satu faktor pendukung stabilitas distribusi barang. Dengan tata kelola yang rapi, proses distribusi dapat berjalan lebih lancar, sehingga potensi kelangkaan maupun lonjakan harga dapat diminimalkan.

Pemerintah Kota Kendari menegaskan bahwa pemantauan tidak berhenti pada satu momentum saja. Pengawasan akan terus dilakukan secara berkala, terutama pada periode-periode krusial seperti menjelang Idul Fitri.

Koordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari distributor, pelaku usaha, hingga instansi terkait, akan terus diperkuat. Tujuannya jelas: memastikan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau dan ketersediaan yang terjamin.

“Pemerintah hadir untuk memastikan masyarakat dapat menjalani Idul Fitri dengan tenang, tanpa kekhawatiran akan lonjakan harga atau kelangkaan barang,” kata Siska.

Pada akhirnya, langkah ini menunjukkan bahwa stabilitas harga bukan hanya soal angka di pasar, melainkan tentang menjaga ketenangan sosial dan keberlanjutan ekonomi masyarakat. Dengan pengawasan yang intensif dan kolaborasi yang kuat, Kota Kendari berupaya memastikan bahwa momentum Lebaran tetap menjadi waktu yang penuh kebahagiaan bagi seluruh warganya. (Adv)

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait