Kendari, Sultrademo.co – Pj. Bupati Buton Tengah (Buteng), Muhammad Yusuf, selaku pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Prov. Sultra melaksanakan Rakor terkait gagal panen akibat bencana banjir di Aula Merah Putih Rumah Jabatan Gubernur Sultra, Minggu, 19 Maret 2023. Hadir dalam Rakor tersebut, Deputi Tanggap Darurat BPBD RI, Mayor Jenderal TNI Fajar Setyawan, Danrem 143 Halu Oleo, Brigjen TNI Yufti Sanjaya, Sekretaris BPBD Sultra, Andrian Nursalam, Distanak Sultra, Asisten 1 bidang Pemerintahan dan Kesra Kota Kendari, Amir Hasan, Dinsos Kota Kendari, Camat Baruga dan pejabat terkait. Serta hadir juga secara virtual BPBD Kab/Kota se- Sultra
Pemprov menyampaikan terima kasih kepada Deputi Tanggap Darurat BNPB RI yang telah hadir, semoga dapat memberikan arahan dalam rangka mengambil langkah-langkah yang strategis, cepat dan tanggap dalam penanggulangan bencana, utamanya pada fase tanggap darurat sampai dengan transisi darurat ke pemulihan.
Berdasarkan data kejadian bencana di Prov. Sultra, saya menyampaikan bahwa sepanjang tahun 2019 – 2022 telah terjadi 93 kejadian bencana dan bahkan yang terbaru, terjadi angin puting beliung yang terjadi di Kota Kendari ini terjadi tidak hanya di Kota Kendari bahwa terjadi di Kabupaten Konawe Konawe Selatan dan Kolaka Utara, kejadian bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi pada tahun 2019 yang lalu, juga merupakan kejadian bencana yang sangat masif yang terjadi dan telah memberikan dampak kerusakan dan kerugian pada sektor Perumahan, infrastruktur, ekonomi sosial dan lintas sektor
Kejadian bencana tahun 2019, juga telah memberikan pengalaman yang berarti pada penanggulangan bencana di Sulawesi Tenggara. Tentunya juga kami sudah mengambil langkah-langkah yang strategis, menjadi hal yang perlu dilakukan mengingat pada masa darurat keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi
Oleh karena itu, besar harapan kami dalam penanggulangan bencana pada fase tanggap darurat dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan tentu arahan dari Deputi sangat kami harapkan mengingat Prov. Sultra, merupakan Provinsi yang rawan bencana baik bencana geologi maupun hidrometeorologi dan bencana sosial
Akhirnya menutup sambutannya ini, kami berharap melalui rakor ini dapat kami menerima arahan dari Deputi tentunya dan kepada para kepala BPBD Kabupaten/ Kota agar menerapkan apa yang menjadi inti dari kegiatan, karena BPBD Kab/Kota merupakan penanda awal. Selain itu, harapan kami koordinasi berjejang daerah Kota/Kabupaten dan Provinsi dan pusat berjalan sebagaimana mestinya
Pemaparan Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Perternakan yang diwakili Kabid Produksi Tanaman Pangan bahwa pada dua hari yang lalu kami mengikuti zoom yang langsung dipimpin Deputi mengenai penanganan bencana banjir pada tanaman padi pada saat itu, kami diminta untuk menyiapkan data kejadian di Januari – Maret 2023.
Lanjut kami perlu laporkan Januari-Maret tahun 2023, untuk tanaman padi belum ada kejadian bencana banjir. Kami memang sangat berharap bahwa ke depan ini mungkin kita akan menghadapi namanya mungkin El Nino yang mungkin kekeringan agak tinggi dan perkiraan puncak kering Juli dan Agustus sehingga resiko terkena bencana kekeringan pertanian, mungkin banjir agak sedikit berkurang, walaupun biasanya kita kejadian di bulan 5-6 biasanya. Tetapi tahun ini ada perubahan berdasarkan data dari BMKG, disampaikan bahwa Puncak kemarau kita itu kemungkinan di Agustus dan akan sedikit mengganggu tanaman kita. Perlu perhatian dari pemerintah terhadap tanaman pangan khususnya padi kita.
Selanjutnya, arahan Deputi bidang penanganan darurat BNPB RI, mendapat amanah dari pimpinan untuk datang di Prov. Sultra pada 2 momentum yaitu pertama, penguatan penanganan bencana puting beliung yang terjadi di tanggal 5 Maret 2023,menimbulkan korban meninggal 1 orang dan beberapa kerusakan rumah serta infrastruktur yang lain yang Kedua, kami mendapatkan tugas menginput data memverifikasi dan meninjau langsung, dampak banjir yang melanda tanaman pangan khususnya tanaman padi
Jadi urusan bencana ini, bukan hanya di negara kita Republik Indonesia tapi menjadi ancaman dunia. Apa latar belakangnya adalah Perubahan iklim dunia, suhu di kutub utara dan selatan itu meninggi akibatkan lapisan es mencair, dengan demikian tinggi permukaan laut akan lebih meningkat dan terjadi anomali sehingga prediksi-prediksi tentang cuaca banyak berubah sehingga yang seharusnya musim kemarau malah hujan dan musim penghujan malah kemarau
“Presiden Republik Indonesia, Jokowi, mengatakan seluruh elemen bangsa baik pusat, daerah, birokrat, swasta, politisi, akademisi tetap saling menguatkan di penanganan bencana. Ketika rakornas salah satu poin penting yang disampaikan beliau adalah bencana menjadi urusan bersama sering kita mengatakan urusan bencana adalah pentahelix” kata Fajar Setyawan
 






