Kendari, Sultrademo.co – Dalam upaya memperkuat pengetahuan para Duta Pariwisata Kota Kendari, pembekalan budaya Tolaki digelar di Hotel Zahra Syariah, Senin (18/11/2024). Kegiatan ini diinisiasi oleh pemerintah Kota Kendari sebagai bagian dari program pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal.
Erens E. Koodoh, akademisi Ilmu Budaya, dipercaya sebagai pembicara utama. Dalam pemaparannya, ia membahas asal muasal suku Tolaki, Kalosara sebagai simbol adat, kerajaan-kerajaan Tolaki, pakaian adat, hingga potensi pariwisata yang berakar pada budaya lokal.
Erens menekankan pentingnya pemahaman budaya lokal bagi para Duta Pariwisata. Ia menjelaskan bahwa kebudayaan adalah pondasi utama dalam menciptakan narasi unik untuk menarik wisatawan.
“Hari ini kita belajar soal kebudayaan Tolaki, tidak kemudian mengesampingkan suku lain. Namun, kita perlu memahami identitas lokal sebagai bagian dari pengembangan pariwisata Kendari,” ujar Erens.
Ia juga menyoroti pentingnya memahami sejarah dan mitos asal-usul suku Tolaki, seperti kisah Oheo, Pasaeno, Wekoila dan Larumbalangi, hingga Onggabo. Cerita ini tidak hanya memperkaya wawasan peserta tetapi juga dapat menjadi daya tarik wisata budaya yang unik.
Mengupas Sejarah Tolaki dan Simbol Kalosara
Peserta mendapatkan pemahaman mendalam mengenai sejarah suku Tolaki, termasuk hasil penelitian Tarimana (1989). Berdasarkan kajian tersebut, suku Tolaki diperkirakan bermigrasi ke Sulawesi Tenggara melalui rute panjang dari Tiongkok Selatan, Filipina, hingga ke wilayah hulu Sungai Lasolo dan Sungai Konawe’cha, yang kini dikenal sebagai lembah Andolaki.
Selain asal-usul, Erens menjelaskan keberadaan kerajaan besar yang menjadi bagian dari sejarah Tolaki, seperti Kerajaan Pandangguni, Wawolesea, Besulutu, dan Mekongga. Masing-masing kerajaan memiliki peran penting dalam membentuk identitas budaya Tolaki.
Simbol adat Tolaki, Kalosara, menjadi salah satu topik menarik. Kalosara bukan hanya alat penyelesaian sengketa, tetapi juga simbol kesakralan yang menjadi identitas masyarakat Tolaki. Meskipun asal-usulnya masih menjadi perdebatan, mitos menyebutkan bahwa Wekoila, Mokole pertama Kerajaan Konawe, menjadi pencipta Kalosara sebagai amanah dari Sangia (dewa).
Kegiatan ini juga menyoroti potensi pariwisata yang berbasis budaya. Pakaian adat Tolaki, makanan khas, hingga tradisi Kalosara dianggap sebagai aset penting untuk menarik wisatawan.
Menurut Erens, mempromosikan budaya Tolaki adalah langkah strategis untuk memperkenalkan identitas Kota Kendari. “Kita tidak hanya bicara soal keindahan alam, tetapi juga bagaimana budaya menjadi daya tarik utama,” tambahnya.
Melalui pembekalan ini, peserta diajak memahami bahwa wisata budaya tidak hanya menghadirkan pengalaman, tetapi juga menciptakan keterhubungan emosional antara pengunjung dan masyarakat lokal.
Membentuk Duta Pariwisata yang Berkarakter
Duta Pariwisata diharapkan tidak hanya memahami destinasi wisata tetapi juga mampu mempromosikan kekayaan budaya lokal. Dengan pengetahuan ini, mereka dapat mengangkat identitas Kota Kendari melalui narasi yang berakar pada kearifan lokal suku Tolaki.
“Sebagai Duta Pariwisata, kalian adalah wajah Kota Kendari. Pemahaman budaya adalah bekal penting untuk memperkenalkan kota ini ke mata dunia,” tegas Erens di akhir sesi.
Kegiatan pembekalan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun promosi pariwisata yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat kebanggaan terhadap budaya Tolaki. Dengan sinergi antara budaya dan pariwisata, Kota Kendari memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata budaya yang mendunia.










