HMI Kendari : Gubernur dan Ketua DPRD Sultra Sedang Bermain Peran Drama Korea

  • Whatsapp

Kendari, sultrademo.co – Serba-serbi wacana kehadiran 500 TKA asal Tiongkok di  Sultra menuai banyak polemik dan kebingungan dalam masyarakat. Apalagi situasi seperti ini masih dalam proses pandemi covid-19, ditambah lagi dengan ketidakkonsisten para pemangku kebijakan seperti eksekutif dan Legislatif Sultra.

Penulis mencoba menguraikan, fenomena sosial seperti ini sama halnya masyarakat Sultra sementara menonton film Drama Korea yang dipertontonkan oleh kedua lembaga negara eksekutif yaitu Gubernur Sultra dan legislatif adalah DPRD Sultra.

Bacaan Lainnya

Kita mencoba flashback beberapa bulan yang lalu dimana kedua lembaga negara secara bersamaan sepakat untuk menolak kedatangan 500 TKA asal tiongkok, tetapi seiring berjalannya waktu gubernur Sultra bapak Ali Mazi banting stir menyetujui masuknya 500 TKA asal tiongkok dibumi anoa sultra, entahlah apa yang membuatnya berubah pikiran.

Begitu pula dengan Ketua DPRD Sultra Abdur Rahman Saleh (ARS), yang pandai berakting memainkan peran seperti aktor dalam film drama Korea, pasalnya sampai mengatakan bahwa siap untuk berjihad kepentingan masyarakat Sultra dan itu sempat viral video yang disebarkan dalam rapat virtual dimana Penyampaiannya berapi-api serta lantang dan tegas berpihak pada rakyat sultra tentang kedatangan 500 TKA.

Tetapi itu hanya akting semata bermain (Protagonis), entah apa yang merasukinya sehingga ketua DPRD melunak dan beralibi yang memang menurut kami tidak rasional, soal kedatangan 500 TKA asal tiongkok ditanah kerinduan para leluhur.

Film terbaik dimusim hujan karena pemerannya jago-jago akting serta pandai pula bersandiwara didepan public untuk membohongi masyarakat Sultra, untungnya ini hanya film, yang diperankan oleh pimpinan Eksekutif wilayah Sultra dan Legislatif Wilayah Sultra. Masih-Masing memainkan Peran seolah mereka aktor papan atas asal Korea

Situasi seperti ini harusnya pemerintah daerah fokus untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang masih menumpuk seperti anggaran penanganan covid-19 yang jumlahnya sangat fantastis 300 Miliar, yang tidak jelas dimana peruntukannya, atau jangan-jangan hanya pengalihan isu agar masyarakat Sultra tidak fokus dalam mengawasi peruntukan anggaran penanganan covid-19, entahlah..!

Dalam teori “the Funcition of sosial conflict” Lewis Coser menggambarkan sekelompok orang yang mendorong terjadinya gejolak sosial dan memanfaatkan konflik untuk menawarkan peran setelah sebelumnya tersingkir dari arena permainan. Nah, melihat isu kedatangan 500 TKA asal tiongkok akhir-akhir ini dengan pola yang sistemik, ini bisa menyebabkan Konflik Horizontal antara masyarakat sultra karena ada pihak yang sedang memancing di air keruh. Kalau ini benar, maka dipastikan mereka adalah orang-orang profesional. Ditambah lagi pemimpinnya yang penuh kebohongan dengan kata lain Sultra hanya menunggu Bom Waktu terjadinya gejolak yang begitu besar.

Pos terkait