Menjaga Dapur Tetap Mengepul: Strategi Bupati Konawe Menjinakkan Inflasi di Pasar Asinua

Konawe, Sultrademo.co Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur Kabupaten Konawe, namun keriuhan di Pasar Sentral Asinua sudah memuncak lebih awal dari biasanya. Jumat pagi (13/2/2026), deretan tenda putih berdiri kokoh di pelataran pasar, memuat tumpukan karung beras, jeriken minyak goreng, hingga gunungan cabai merah yang segar.

Bacaan Lainnya
 

Di tengah kerumunan warga yang antusias, tampak sosok Bupati Konawe, H. Yusran Akbar, ST, bergerak lincah dari satu stan ke stan lainnya. Kehadirannya bukan sekadar protokoler, melainkan sebuah aksi turun lapangan untuk memastikan bahwa intervensi negara benar-benar sampai ke tangan rakyat melalui instrumen Gerakan Pangan Murah (GPM).

GPM yang dilaksanakan serentak secara nasional ini menjadi palu godam pemerintah untuk memukul mundur laju inflasi yang kerap menghantui daya beli masyarakat di daerah. Bagi Yusran, stabilisasi harga pangan bukanlah sekadar angka-angka di atas kertas laporan statistik, melainkan jaminan bahwa setiap meja makan di rumah tangga Konawe tetap memiliki sajian yang layak.

1. Diplomasi Pangan di Lini Depan

Pasar Asinua menjadi episentrum gerakan ini. Di sini, pemerintah daerah tidak bekerja sendiri. Sinergi lintas sektoral terlihat nyata dengan keterlibatan Perum Bulog, para distributor besar, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.

Dalam pantauannya, Bupati Yusran Akbar berdialog langsung dengan para ibu rumah tangga yang sedang mengantre. Ia ingin memastikan bahwa subsidi distribusi yang dikucurkan pemerintah benar-benar memangkas harga jual di tingkat konsumen, bukan menguap di tengah jalan.

“Kehadiran kami di sini adalah bentuk komitmen. Pemerintah tidak boleh abai ketika harga-harga mulai merangkak naik. Pangan yang stabil adalah fondasi paling mendasar dari kesejahteraan. Jika urusan perut sudah tenang, masyarakat bisa beraktivitas dengan produktif,” ujar Yusran di sela-sela kegiatannya.

GPM ini dipantau secara virtual oleh pemerintah pusat, menciptakan sinkronisasi kebijakan dari Jakarta hingga ke kabupaten-kabupaten di pelosok Sulawesi Tenggara. Ini adalah bukti bahwa orkestrasi pengendalian inflasi dilakukan secara terukur dan berjaring.

2. Membedah “Harga Ramah Kantong”

Apa yang membuat GPM begitu magnetis bagi warga? Jawabannya terletak pada selisih harga yang signifikan dibandingkan harga pasar reguler. Berkat subsidi distribusi yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Konawe, rantai pasokan yang panjang dipangkas, sehingga margin keuntungan tengkulak dihilangkan demi kepentingan rakyat.

Sejumlah komoditas strategis yang dijual dalam GPM kali ini antara lain:

  • Beras SPHP dan Premium: Dijual dengan harga di bawah HET (Harga Eceran Tertinggi).

  • Minyak Goreng dan Gula Pasir: Komoditas yang paling cepat ludes diborong warga.

  • Telur Ayam, Bawang Merah, dan Bawang Putih: Dipasok langsung dari petani lokal untuk menjaga kesegaran.

  • Cabai Rawit: Komoditas “pedas” yang sering menjadi penyumbang inflasi utama, kini dijajakan dengan harga yang menyejukkan hati para ibu.

Salah seorang warga, Siti Aminah (45), mengungkapkan rasa syukurnya. “Di pasar sebelah, harga cabai dan minyak sudah mulai ‘terbang’. Di sini, selisih dua sampai tiga ribu rupiah per kilogram sangat berarti untuk kami yang mengatur uang dapur harian,” akunya sambil menenteng belanjaan.

3. Ketahanan Pangan: Antara Stok dan Distribusi

Di balik keriuhan GPM, ada kerja keras teknokratis yang dilakukan oleh Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Konawe. Kepala dinas memastikan bahwa stok pangan di gudang-gudang penyangga dalam kondisi aman, tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk menyambut momentum hari besar keagamaan yang akan datang.

Bupati Yusran menekankan bahwa GPM bukanlah aksi “pemadam kebakaran” yang dilakukan hanya saat terjadi krisis. Ia menginstruksikan agar pemantauan harga dilakukan secara berkala.

“Kita punya sistem peringatan dini. Jika ada satu komoditas yang harganya melompat tidak wajar di pasar, kita langsung intervensi dengan GPM atau operasi pasar. Kita tidak akan membiarkan spekulan bermain-main dengan kebutuhan dasar rakyat,” tegas Yusran.

4. Hilirisasi dan Dukungan Petani Lokal

Uniknya, GPM di Konawe juga menjadi ajang promosi bagi petani lokal. Dengan melibatkan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok GPM, Pemerintah Kabupaten Konawe secara tidak langsung membantu memasarkan hasil panen daerah sendiri.

Ini adalah strategi ganda: di satu sisi menekan harga untuk konsumen perkotaan, di sisi lain memberikan kepastian harga bagi para petani di desa. Dengan demikian, ekonomi lokal tetap berputar secara sehat tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pasokan dari luar daerah yang rentan terhadap gangguan logistik.

5. Visi Menuju Konawe Mandiri Pangan

Bagi Yusran Akbar, keberhasilan GPM hari ini adalah batu pijakan menuju visi yang lebih besar: Kemandirian Pangan Konawe. Sebagai daerah yang kaya akan lahan pertanian, ia ingin Konawe tidak hanya mampu memberi makan warganya sendiri, tetapi juga menjadi penyokong utama pangan bagi wilayah-wilayah tetangga di Sulawesi Tenggara.

Ia berharap kegiatan GPM bisa menjadi agenda rutin yang terlembaga dengan baik. Bukan hanya soal murahnya harga, tapi soal kehadiran negara yang memberikan rasa aman secara psikologis bagi masyarakat bahwa pemerintah selalu ada saat dibutuhkan.

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Penulis: Muhammad Sulhijah

Pos terkait