Opini: Edukasi Dampak Sosial Covid-19

  • Whatsapp

Tidak dipungkiri bahwa beredarnya kabar virus corona yang menjangkiti Indonesia terkhusus di Kecamatan Angata Kabupaten Konawe Selatan (KONSEL) berdampak pada sikap masyarakat yang menjadi lebih over-protektif terhadap lingkungan sekitarnya.

Ketakutan terhadap virus corona akan memberikan pengaruh terhadap sikap sosial masing-masing individu. Masyarakat akan lebih mudah menaruh rasa curiga terhadap orang di sekitar lingkungannya.

Bacaan Lainnya

Masyarakat lebih cenderung memutuskan menjauh ketimbang menanyakan kabar atau sekadar menunjukkan bentuk kepedulian kecil lainnya. Asumsi-asumsi masyarakat ini sifatnya memang masih spekulatif, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa ancaman virus corona ini tidak hanya akan merenggut kesehatan seseorang tetapi juga merenggut rasa sosial kita terhadap sesama.

Sebagai contoh yang telah terjadi di wilayah Desa Kosebo Kecamatan Angata Kabupaten Konawe Selatan. Sejak di tetapkannya salah satu pelajar berusia 20 tahun itu sebagai pasien positif COVID 19, masyarakat di lingup Kecamatan Angata memunculkan reaktif yang sangat tinggi terlebih lagi ungkapan itu disisipkan di berbagai dinding status media sosial yang dimiliki warga setempat.

Ikhwal ini, tentunya sangat mempengaruhi keberlangsungan kegidupan sosial antar sesama masyarakat lingkup kecamatan dan menjadi barometer bagi masyarakat yang berkedudukan di Desa tersebut.

Adalah hal yang manusiawi ketika masyarakat mulai memberikan respons antisipatif dalam melihat situasi tersebut. Namun, ada etika sosial yang perlu dijunjung tinggi dan dipelihara agar hubungan antar sesama tetap terjaga. Apalagi masyarakat setempat dikenal sangat menjunjung tinggi nilai solidaritas “medulu mepokoaso” yang sukses gemilang di tanamkan leluhur dahulu.

Munculnya berbagai respons masyarakat terhadap salah seorang warga desa Kosebo tersebut, tentunya mempengaruhi disintegrasi sosial, struktur sosial antar masyarakat yang berkedudukan di Kecamatan Angata dan terlebih lagi fisikologi keluarga yang terpapar wabah Corona itu.

Hal ini terjadi karena adanya Ketidakmampuan masyarakat dan minimnya pemahaman dalam mengelolah rasa curiga, takut, sikap over-protektif dalam merespons isu corona ini. Hal itu juga memiliki potensi untuk merusak hubungan sosial dengan individu lain. Apalagi, jika kita hidup dan aktif dalam masyarakat, bahkan keluarga.

Tak hanya itu, terjadinya disorganisasi dan disfungsi sosial itupulah akan memicu efek bola salju (snowball effect) pada sektor kehidupan lainnya. Efek paling nyata adalah bidang ekonomi dan tidak terpenuhinya kebutuhan hidup masyarakat sekitar. Dampak dari disorganisasi dan disfungsi sosial karena wabah virus corona.

Sabagai fakta, pasar tradisional yang berkedudukan di Desa Motaha Kecamatan Angata seketika langsung ditutup oleh pemerintah akibat wabah tersebut. Padahal pasar rakyat itu boleh dikata merupakan wadah untuk melangsungkan dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari

Olehnya itu, penulis menyarankan kepada pemerintah baik dari kabupaten, tingkat kecamatan dan tingkat desa untuk segera turunkan tim gugus tugas di wilayah yang penulis uraikan. Agar kiranya masyarakat diberikan pemahaman, edukasi dalam bijak mengatasi masalah isu Corona tersebut.

Kiranya ketika bumi ini sembuh dari virus COVID 19 nilai solidaritas mekanik masih tetap terjaga dan subur dengan baik seperti yang diungkapkan salah seorang Sosiolog EMILE DURKHEIM.

Pemerintah kabupaten Konawe Selatan juga diharapkan mempunyai terobosan ampuh paling tidak menjadi “Win-Win Solution di tengah masyarakat selama masa pandemi berlangsung, melihat apa yang kurang dalam wilayah tersebut untuk dilengkapi.

Tidak berdiam diri di tempat dengan alasan di “Rumah Saja” dan selalu mengedepankan alibi disaat Conferensi Pers tanpa turun langsung melihat kondisi sosial masyarakatnya.

Penulis juga menyarankan kepada masyarakat dalam lingkup Kecamatan Angata, agar kiranya tetap tenang dalam masa pandemi ini, mengambil pengalaman atau langkah solutif di daerah lain yang banyak terpapar virus COVID 19 itu untuk diterapkan dalam lingkungan sekitar, dan baiknya selalu memberikan bantuan moral, moril dan semangat kepada keluarga yang tertimpah wabah tersebut supaya beban atau rasa traumatis dari keluarga tersebut bisa terobati.

Mari bergandeng tangan memutuskan mata rantai COVID 19 ini, stop memunculkan statement buruk yang bisa meretakkan ilai sosial antar masyarakat.

Penulis : HASRIM S.Sos
(Alumni jurusan S1 Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Halu Oleo Kendari)

  • Whatsapp

Pos terkait