Opini : Social Distancing dalam Menghadapi Corona

  • Whatsapp

Oleh: Hardianti mukaddas
(Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Laluoleo)

Seperti kedatangan penyakit yang tidak diprediksi apakah membahayakan atau tidak. Sebelummnya dianggap biasa saja bahkan tak jarang ada suara-suara dari pejabat negara bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan dalam menghadapi covid 19. Namun tiba-tiba semua terdiam, selama beberapa pekan bangsa Indonesia dan dunia menghadapi permasalahan yang membahayakan keberadaan ummat manusia.

Bacaan Lainnya

Permasalahan mengenai ancaman manusia dengan virus yang merusak system kesehatan pada tubuh. Virus ini yang jamak kita sebut dengan istilah “corona virus”. Virus corona membuat dunia kaget, negara-negara seperti tidak siap, kondisi ekonomi tiap negara bukan saja mengalami kemacetan lebih dari itu mengalami kemunduran. Corona menjadi salah satu alasan manusia kehilangan nyawa, pekerjaan tertunda hingga akitivitas ruitinitas warga dunia terhambat. Bencana yang maha dashyat, seluruh mata tertuju pada pandemi (penyakit yang menyebar luas) ini. Yang terkena bukan hanya masyarakat biasa, mulai dari Menteri hingga kepala daerah juga tidak luput dari corona. Media tak henti-hentinya memberitakan corona yang begitu menguras energi setiap negara yang terkena corona.

Belakangan muncul pertanyaan apa yang harus disiapkan dalam menghadapi corona. Inilah yang akan penulis bahas bagaimana upaya yang tepat dan dapat dilakukan agar kondisi yang kian memburuk ini dapat segera teratasi.

Indonesia dan dunia berduka
Data yang penulis kumpulkan dengan mengumpulkan beberapa referensi yang ada, kurang lebih sudah 90 negara yang terkena virus corona. Virus ini ditemukan pertama kali di wuhan china tidak ada yang menyangka akan mewabah hingga kebeberapa negara. pada tanggal 5 maret menunjukkan ada 96.132 orang yang terinfeksi corona. John Hopkins university hari sabtu 21 maret 2020 menyebutkan ada 271.629 kasus dengan rincian, kematian 11.282 orang. Kalau kita lihat lagi di italia bahwa hampir tiap hari 627 orang meninggal dalam sehari

Angka kematian ini tentu membuat kita bertanya-tanya harus bagaimanakah penyelesaian virus ini. Nyawa manusia harus hilang begitu saja, sebagai makhluk yang bertuhan kita menyadari wafatnya seseorang karena kehendak yang maha kuasa namun factor-faktor yang menjadi penyebab juga harus diatasi secara serius. Kalau kita bicara kondisi dalam negeri sendiri sudah ada 450 jiwa positif corona terdiri atas 17 provinsi dengan kehilangan nyawa 38 jiwa. Krisis kesehatan yang dialami oleh bangsa Indonesia dan dunia memberi gambaran bahwa Indonesia dan dunia berduka.

World Health Organization (WHO) atau organisasi kesehatan dunia dibawah Perserikatan bangsa bangsa (PBB) telah menetapkan kondisi gawat darurat global. Ini berarti dunia dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Menunjukan corona menjadi tantangan warga dunia untuk dihadapi secara Bersama-sama. Bahkan WHO mendorong agar negara-negara serius menangani virus corona. Tidak tanggung-tanggung WHO sampai menegur presiden Jokowi lewat surat tanggal 10 maret 2020 untuk segera mengumumkan status darurat nasional corona. Ini sekali lagi menunjukan dunia sedang serius menangani virus corona. Lantas bagaimana dengan pemerintah Indonesia?

Respon pemerintah Indonesia
Presiden Joko Widodo secara serius mengatasi persoalan corona. Presiden menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 7 Tahun 2020 terkait Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 usai WHO menetapkan Covid-19 tersebut menjadi pandemi global. tidak berhenti sampai disitu bahkan pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyiapkan dana tambahan sebesar RP 62,3 triliun untuk penanganan virus corona di Indonesia. Dana ini menunjukan komitmen keseriusan pemerintah dalam menghadapi virus corona demi menyelamatkan warga negaranya. Didaerah-daerah sendiri mulai dari gubernur hingga bupati turun secara langsung memantau perkembangan corona virus. Memastikan peralatan tersedia, serta pelayanan kepada pasien virus corona dijalankan sesuai dengan protokoler yang berlaku.

Inilah peran pemerintah Indonesia secara sungguh-sungguh hadir ditengah kegelisahan warganya. Persoalan corona virus ini menguji keseriusan sekaligus memberi penilaian sejauh mana penyelenggara negara serius memberi pelayanan kesehatan. Bagi pemerintah yang serius akan dipuji oleh warganya bahkan dunia seperti WHO yang memuji langkah cepat pemerintah china dalam penanganan virus corona. Sedangkan negara yang tidak serius atau stengah serius maka harus bersiap mendapatkan kritikan dari dalam maupun luar negara. Namun menjadi persoalan adalah ternyata petugas kesehatan mengalami kendala dalam penanganan pasien. Kendalanya yaitu ketersediaan alat kesehatan yang tidak seimbang dengan jumlah pasien yang terus bertambah. Sekuat apapun keuangan yang kita miliki tentu akan tidak berdaya saat tenaga medis harus mengobati ratusan manusia, tidak berbanding lurus jumlah sumber daya manusia dirumah sakit rujukan dengan pasien corona. kendala ini sebenarnya bisa diatasi jika seluruh komponen bekerjasama.

Pemerintah yang saat ini sudah menyediakan fasilitas, tenaga medis hingga saat ini juga bekerja dirumah sakit rujukan dengan cepat dan tanggap dan yang paling penting adalah masyarakat tidak beraktivitas dalam kerumunan banyak orang atau dalam kata lain mengisolasi diri dari interaksi social (social distancing). Sayangnya hoby masyarakat kita yang masih mengeyampingkan himbauan dari pemerintah, membuat social distancing masih kurang optimal dalam pelaksanaannya.
Social distancing sebagai sebuah solusi
Beragamanya manusia indonesia sebagai bangsa beradab, beragama dan beradat yang menjunjung tinggi persatuan dan rasa kebersamaan harus diakui dan dilestarikan sebagai bagian dari ciri khas bangsa Indonesia yang cinta gotong royong.

Sehingga setiap harinya tempat hiburan, café, mall dan tempat keramaian lainnya selalu didatangi, tua maupun muda. Namun dalam perkara virus corona ini sudah saatnya kita mengeyampingkan budaya yang selama ini kita bangun demi keselamatan kita Bersama. Kebersamaan itu harus kita transformasi untuk sementara dengan cara yang efektif tidak berinteraksi social demi membantu tenaga medis yang kewalahan menghadapi pasien yang begitu banyak. Cara efektif yang digunakan ini adalah dengan metode social distancing.

Social distancing adalah perilaku membatasi diri, berkomunikasi secara jarak jauh untuk memutus rantai suatu penyakit. Kalau kita menerapkan social distancing maka sama saja menyelamatkan orang lain dari virus corona. Pemerintah Indonesia menetapkan status darurat nasional sampai beberapa waktu kedepan. Kemudian memerintahkan sekolah, kampus, kantor untuk bekerja dirumah bukan malah liburan. Harapannya dengan melakukan social distancing maka penyakit corona yang menyebar dari satu orang ke orang lain akan segera diputus mata rantainya. Misalkan tanpa disadari si A terkena corona, lalu si B tidak terkena corona, si A mengajak B untuk ketemu lalu B menolak dengan alasan social distancing maka si B telah menyelamatkan keluarganya dan kerabatnya dengan tidak bertemu langsung si A. namun kalau masa social distancing yang diberikan pemerintah ini lantas digunakan untuk berlibur dan berinteraksi social pada banyak orang maka sia-sialah masa status gawat darurat ini. Karena virus corona ini tidak bisa ditebak saat kapan dan dimana dia masuk kedalam tubuh manusia. suka tidak suka cara ini efektif saat ini digunakan oleh negara-negara yang diatas 50% efektif berhasil memberantas corona seperti china, filipina, singapura.

Olehnya itu saatnya kita ikut membantu pemerintah, memudahkan beban tenaga kesehatan demi Indonesia yang bebas dari virus corona dengan menerapkan metode social distancing sampai waktu yang ditentukan pemerintah.

  • Whatsapp

Pos terkait