Opini : Yamin Indas In Memorium

  • Whatsapp

Oleh : Mappajarungi

Innalillahi Wainna ilaihi rajiun..

Bacaan Lainnya

Saya termenung bagai gunung. Tak bergerak beberapa menit ketika membaca postingan sahabat fb di subuh hari tadi. Tentang kepergian saudara sahabat dan orang tua kami H. Yamin Indas. Menghadap Ilahi..

Satu persatu kawan sahabat saudara kami pergi lebih awal, menghadap Ilahi. Sedih rasanya. Tapi itulah takdir. Takdir yang juga akan dihadapi semua mahluk hidup, adalah: Kematian.

“Mappa, lihatlah ombak itu. Ia terus bergerak, mengeluarkan buih, mengombang ambingkan perahu itu. Tapi ombak juga akan berakhir di tepian dan tak mampu untuk terus bergerak”

Kata kata itu, masih masih terngiang di telingaku. Ketika saya dan Yamin berjalan menyusuri Teluk kendari di awal 90-an usai jenguk kematian sahabat kami Zakaria Haris Wartawan Sinar Harapan (Suara Pembaruan). Kediaman Zakaria di sisi Teluk Kendari nan indah itu.

Sekembali dari tugas di Surabaya sebagai Wakil Pimred Surya, aku masih di Harian Pelita. Alm langsung mencari saya dan ajak ngobrol bertiga dengan alfred Lande. Kami bercerita tentang tugas Norman Edwin (Almahum yang meninggal di puncak Gunung Aconcangua, Argentina) kami bercerita, selama alm Norman menggantikannya ngepos di Kendari. Ia tahu saya selalu bareng dengan Norman. Tapi, saya tepis! bahwa yang akrab adalah Sudirman Duhari.

Saya boleh dikata tandem liputan wilayah Sultra, kadang bareng jalan ke Jawa, Sumatra dan Timur Indonesia. Di jiwanya menghembus nafas jurnalisme yang tak bisa terpisahkan. Telah mendarah daging. Dia penuh dedikasi mengabdi di dunia pers!

Suatu waktu, istrinya sakit keras. Sementara ada tugas liputan. Ia pamit pada istrinya yang tengah berbaring di rumah sakit dengan derai aiu mata meninggalkan istrinya menitipkan pada keluarga. Kami berangkat ke Buton kala itu.

Sebagai sesama kerja di dunia pers kami sering berselisih paham tentang kebijakan berita. Puncaknya, ketika kami ingin membangun Nusantara Pos milik Alm Idrus Indas yang tak lain adalah milik kakak beliu. Disinilah kebijakan politik redaksional yang kami pertentangkan, akhirnya saya harus mengalah karena melihat kondisi daerah. Serta kondisi modal perusahaan. Beliau sangat bijak menangani redaksiol..

Saya sadar, ia sebagai wartawan yang hampir semua tugas dijalani di lapangan. Ia tak suka duduk dibelakang meja.karena di lapangan mencari berita, betul betul memahami sosial budaya masyarakat dan cara kerja pemerintah.

Ketika ia mau jadi anggota DPRD Sultra. Saya katakan tidak setuju. Karena itu saya atur jarak. Tapi, selang beberapa lama ia ajak saya ketemu. Dia menyiapkan kopi dan pisang rebus kesukaanku di teras rumahnya.

“Mappa, nafas saya itu penulis. Wartawan dan legislatif itu hampir sama. Sama sama berjuang untuk rakyat. Sama sama mengawasi eksekutif. Di legislatif hanya sesaat, tapi jiwa jurnalisme saya sampai mati”

Saya mengerti dan menerima alasannya. Kami berangkulan di teras rumahnya. Beliau juga mendukung saya ketika eksodus dari HU PELITA ke Media Indonesia.

Saya paham. Karakter tulisannya begitu kuat. Karena ia bukan wartawan instan. Ia ditempa sejak zaman Eddy Sabara di wilayah Sultra. Itulah sebabnya ia tau setiap jengkal kondisi Sultra, dari Routa ke Batu Ata dan dari Wawonii ke Kolaka utara berbatasan Sulsel. Tak ada terlewati.

Ia begitu democrat, selagi nafas jurnalisme ditegakkan. Ketika saya keluar dari PWI dan membawa bendera AJI ( Aliansi Jurnalis Independen) di Kendari, ia menjabat sebagai ketua PWI Sultra. Ia tak marah, malah tertawa.

“Bagus, selagi berjuang yang benar di jalan kebenaran dan menegakkan panji panji Jurnalisme” katanya. Saya makin hormat ama saudara saya itu. Padahal jika ia marah, saya sudah siapkan “perang”.

Alm Yamin Indas kelahiran 1950, jauh beda dengan umur saya. Tapi, dia tak pernah merasa lebih senior. Dia faham betul dan mampu memasuki usia pergaulan. Dia bergaul dari mentri sampai rakyat bawah.

Saya tak mampu lagi menuangkan begitu banyak suka duka bersama almarhum meniti dunia pers. percayalah Allah swt menerima amal kebaikan. Menghapus dosa dosanya. Kepergiannya saat malam kemenangan akhir ramadan.

Memasuki idul fitri. Saya yakin kepergiannya juga fitri (suci) karena ibadahnya begitu baik dan selalu menegakkan shalat..,

Saya berduka yang dalam. Semoga keluarga yang ditinggal tabah menerima takdirnya.. Alfatiha..

Cakung 24-05-2020.

Tampak beberapa kenangan bersama Almarhum Yamin Indas.

  • Whatsapp

Pos terkait