Profil Mbah Benu: Sosok Kontroversial di Balik Jamaah Aolia, Pernah Kuliah di Kedokteran UGM

Mbah Benu atau KH. Ibnu Hajar, pimpinan jemaah Masjid Aolia, Panggang, Gunungkidul/Istimewa.

Kendari, Sultrademo.co – Sebuah fenomena mengejutkan mewarnai perayaan Idul Fitri di Indonesia tahun ini ketika Jamaah Aolia dipimpin oleh sosok kontroversial, Raden Ibnu Hajar Sholeh Pranolo, atau yang akrab disapa Mbah Benu, memutuskan untuk melaksanakan shalat Idul Fitri lebih dulu daripada yang diprediksi oleh pemerintah.

Keputusan ini menuai perbincangan hangat di berbagai media, mengundang rasa ingin tahu akan sosok yang mengguncang kebiasaan umat Islam tersebut.

Bacaan Lainnya
 
 

Dilansir dari berbagi sumber, Mbah Benu, pemimpin Jamaah Aolia, bukanlah sosok biasa dalam lanskap keagamaan Indonesia. Dilahirkan pada 28 Desember 1942 di Pekalongan, beliau tumbuh besar di Purworejo dan menetap di Giriharjo, Kecamatan Panggang sejak 27 Juli 1972.

Pendidikan tinggi dijalani di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), namun di semester akhirnya, beliau memutuskan untuk drop out dengan alasan yang cukup unik. Mbah Benu merasa bahwa ilmu kedokteran bisa menimbulkan kemusyrikan dan tidak ingin memakan uang dari orang yang sakit atau menderita.

Tesis mahasiswa IAIN Purwokerto, Muhammad Ulyan, mengungkapkan sisi lain dari Mbah Benu. Dalam tesis tersebut, terkuak bahwa Mbah Benu bukan hanya seorang pemimpin agama biasa, tetapi juga sosok yang memiliki pemahaman mendalam tentang agama Islam serta keterhubungannya dengan spiritualitas.

Hal ini terbukti dari keputusannya menetap di Gunung Kidul dan keberhasilannya mempelajari Islam langsung dari sang ayah, seorang lulusan berbagai pesantren di Jawa dan Madura.

Di rumahnya yang terletak di Dusun Panggang III, Desa Giriharjo, Gunung Kidul, Yogyakarta, Mbah Benu menyimpan banyak hiasan, termasuk lukisan Kanjeng Ratu Kidul. Namun, jauh dari sekadar hiasan, lukisan tersebut memiliki tujuan mendalam untuk meluruskan aqidah masyarakat.

Meskipun masyarakat pada masa lalu percaya akan hal-hal mistis seputar Kanjeng Ratu Kidul, Mbah Benu selalu menegaskan bahwa yang perlu dipuja dan disembah hanyalah Allah SWT.

Tak hanya itu, keputusan Mbah Benu menetap di Gunung Kidul juga dipengaruhi oleh faktor pribadi, di antaranya adalah karena mengikuti calon istrinya yang saat itu bertugas sebagai bidan di daerah tersebut.

Meskipun memiliki gelar ‘Raden’ yang menandakan keturunan darah biru dari Purworejo, Jawa Tengah, Mbah Benu memilih untuk tidak berpolitik dan sepenuhnya fokus pada pemahaman agama Islam serta mendirikan Jamaah Aolia.

Salah satu aspek yang membuat Mbah Benu menjadi sosok yang menarik perhatian adalah kemampuannya untuk berkomunikasi dengan makhluk gaib. Wawancara dengan beberapa pihak mengungkapkan bahwa beliau memiliki banyak jin yang ditempel di pusaka-pusaka. Ini menambah lapisan misteri dan kontroversi di sekitar sosok Mbah Benu.

Dengan profil yang begitu kompleks dan kontroversial, Mbah Benu tetap menjadi sosok yang menarik untuk ditelusuri lebih jauh. Bagi sebagian orang, Mbah Benu adalah pemimpin spiritual yang membawa pencerahan, sementara bagi yang lain, ia adalah sosok yang mempermainkan kepercayaan agama.

Dalam keseluruhan kontroversinya, Mbah Benu memperlihatkan betapa kompleksnya hubungan antara agama, spiritualitas, dan kehidupan sehari-hari.

Print Friendly, PDF & Email
 
*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait