Surat Berharga Negara Sebagai Sumber Pembiayaan Menutup Defisit APBN

  • Whatsapp
Ketgam : Abdul Mufid. Poto : Istimewa (dokumen pribadi)

Oleh : Abdul Mufid, S.E., M.Ec.DevA

nalis Pengelolaan Keuangan APBN Ahli Muda Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Bacaan Lainnya

Email: abdul_mufid84@yahoo.co.id

Pandemi covid-19 memberikan dampak yang luar biasa kepada seluruh sendi kehidupan. Dampak yang terparah dialami oleh sektor kesehatan dan perekonomian. Sampai saat ini pemerintah masih bekerja keras dalam penanganan Pandemi covid-19. Pemerintah menfokuskan pada program penanganan kesehatan, perlindungan jaminan sosial, dan pemulihan ekonomi nasional.

Anggaran yang diperlukan untuk program penanganan pandemi covid-19 sangat luar biasa besarnya. Pemerintah bekerja keras untuk meningkat pendapatan negara agar bisa membiayai seluruh keperluan negara termasuk penanganan pandemi. Kondisi perekonomian yang kurang baik sebagai dampak dari pandemi covid-19 membuat pendapatana negara tertekan cukup dalam, sehingga pemerintah mengalami defisit anggaran yang cukup besar.

Berdasarkan data kementerian keuangan defisit anggaran sampai dengan akhir juni 2021 mencapai Rp283,24 triliun atau sekitar 1,72 persen dari PDB (28,1 persen dari pagu APBN 2021). Defisit APBN merupakan kondisi dimana besarnya belanja negara belum dapat terpenuhi seluruhnya dari penerimaan negara. Sehingga untuk menutup kekurangan tersebut pemerintah mengambil kebijakan pembiayaan.

Salah satu sumber pembiayaan negara adalah melalui Utang. Pembiayaan utang merupakan konsekuensi logis atas kebijakan belanja negara yang ekspansif saat ini. Berdasarkan data dari Kementerian Keuangan posisi utang pemerintah sampai akhir Juni 2021 sebesar Rp 6.554,56 triliun. Angka tersebut 41,35 persen dari rasio utang pemerintah terhadap PDB.

Komposisi utang pemerintah terdiri dari pinjaman sebesar Rp 842,76 triliun (12,86 persen) dan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 5.711,79 triliun (87,14 persen). Utang melalui pinjaman berasal dari pinjaman dalam negeri sebesar Rp 12,52 triliun dan pinjaman luar negeri sebesar Rp 830,24 triliun. Sedangkan utang yang bersumber dari Surat Berharga Negara (SBN) yang berasal dari pasar domestik sebesar Rp 4.430,87 triliun dan valas sebesar Rp 1.280,92 triliun.

Surat Berharga Negara (SBN) adalah produk investasi yang diterbitkan dan dijamin oleh Pemerintah Republik Indonesia kepada individu warga negara Indonesia. SBN menjadi alternatif produk investasi yang aman, mudah, terjangkau dan menguntungkan. SBN terbagi menjadi dua jenis, yaitu pertama SBN konvensional berbentuk Surat Utang Negara (SUN) dan kedua berupa Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

Surat Utang Negara (SUN)
Dikutip dari laman Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Surat Utang Negara (SUN) adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan hutang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia, sesuai dengan masa berlakunya. Surat Utang Negara (SUN) saat ini terdiri dari dua jenis yaitu:

a) Surat Perbendaharaan Negara (SPN), yaitu SUN yang berjangka waktu sampai dengan 12 bulan dengan pembayaran bunga secara diskonto.

b) Obligasi Negara (ON), yaitu SUN yang berjangka waktu lebih dari12 bulan dengan kupon atau dengan pembayaran bunga secara diskonto dan pada saat jatuh tempo dilunasi sebesar nilai nominalnya.

Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)
Dikutip dari laman resmi BI, Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) adalah SBN yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap aset SBSN, baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing. SBSN mengacu pada hukum syariah sedangkan SUN yang bersifat konvensional, sehingga SBSN juga disebut sebagai sukuk negara.

Surat Berharga Negara (SBN) merupakan sumber pembiayaan terbesar pemerintah saat ini. Bukan hanya para investor besar yang di utamakan oleh pemerintah, tetapi juga mengakomodir investor kecil yang tak memiliki dana besar untuk berinvestasi, sehingga pemerintah secara rutin menerbitkan SBN ritel, baik dalam bentuk SUN maupun SBSN.

Kemandirian pembiayaan dalam negeri sangat penting dan membantu negara untuk membiayai berbagai keperluan belanja pemerintah. Kita sebagai anak bangsa dapat berkontribusi nyata pada negara dengan berinvestasi melalui Surat Berharga Negara (SBN) baik SUN maupun SBSN. Semoga dengan pengelolaan pembiayaan yang baik menjadikan APBN kita tetap sehat dan dapat memberikan dampak bagi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. (AM)

Pos terkait