Kendari, Sultrademo.co – Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andi Sumangerukka, menegaskan pentingnya peran Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam mendukung pembangunan daerah. Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan moral dan spiritual dari para alim ulama.
Hal tersebut disampaikan Andi Sumangerukka saat menghadiri Pengukuhan Pengurus MUI Provinsi Sulawesi Tenggara Masa Khidmat 2026–2031 di Masjid Agung Al-Kautsar Kendari, Selasa (21/7/2026).
Kegiatan tersebut mengusung tema “Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Keumatan Menuju Sulawesi Tenggara yang Aman, Sejahtera, dan Religius”.
Prosesi pengukuhan dilakukan Ketua MUI Pusat Bidang Dakwah, KH Abdul Manan Gani, yang secara resmi mengukuhkan jajaran Pengurus Dewan Pimpinan dan Pengurus Komisi MUI Sultra periode 2026–2031.
Dalam sambutannya, Andi Sumangerukka mengucapkan selamat kepada seluruh pengurus MUI Sultra yang baru dikukuhkan. Ia berharap kepengurusan tersebut mampu menjalankan amanah dengan baik, khususnya dalam meningkatkan kualitas dakwah, membina akidah dan akhlak umat, menjaga persatuan, serta berkontribusi terhadap pembangunan daerah.
Menurutnya, Pemprov Sultra saat ini tengah menjalankan berbagai program pembangunan untuk mewujudkan daerah yang maju, aman, sejahtera, dan religius.
Ia menilai berbagai program tersebut akan berjalan lebih optimal apabila mendapat dukungan aktif dari para alim ulama.
Karena itu, Gubernur berharap MUI dapat terus menjadi mitra strategis pemerintah dengan memberikan masukan dan pertimbangan dalam berbagai persoalan pembangunan. MUI juga diharapkan mampu menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah daerah dan masyarakat.
Gubernur Ingatkan Bahaya Politik Praktis
Dalam kesempatan tersebut, Andi Sumangerukka juga mengingatkan pentingnya menjaga independensi lembaga keagamaan dari kepentingan politik praktis.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meninggalkan perbedaan politik dan kembali memperkuat persatuan demi pembangunan Sulawesi Tenggara.
“Saya ingin menyampaikan, manakala agama dicampuradukkan dengan politik maka akan terjadi perpecahan dan perkotak-kotakan,” ujar Andi Sumangerukka.
Ia juga menegaskan bahwa masjid harus tetap menjadi tempat ibadah, pusat pembinaan umat, sekaligus ruang untuk mempererat hubungan sosial masyarakat.
Menurutnya, masjid tidak semestinya dijadikan sarana untuk kepentingan politik yang berpotensi memicu perpecahan di tengah masyarakat.
Gubernur menilai keberagaman latar belakang organisasi Islam dalam kepengurusan MUI Sultra, termasuk Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, merupakan modal penting untuk memperkuat persatuan umat.
Kebersamaan tersebut, kata dia, harus terus dijaga guna memperkokoh ukhuwah Islamiyah dan menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis.
MUI Diminta Perkuat Ekonomi Umat
Selain persoalan persatuan, Gubernur juga menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi masyarakat di tengah perkembangan teknologi informasi dan era globalisasi.
Beberapa di antaranya adalah penyalahgunaan narkoba, judi online, penyebaran hoaks, radikalisme, hingga krisis moral yang dapat mengancam generasi muda.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, MUI diharapkan dapat mengambil peran sebagai teladan moral dan spiritual bagi masyarakat.
MUI juga didorong untuk memperkuat toleransi, membina generasi muda, serta ikut mendorong pemberdayaan ekonomi umat.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pengembangan produk halal, pembinaan UMKM berbasis syariah, serta peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah.
Andi Sumangerukka berharap kepengurusan MUI Sultra periode 2026–2031 dapat menjadi kekuatan moral sekaligus mitra pemerintah dalam menjaga persatuan umat dan mendorong pembangunan daerah.
Dengan sinergi antara pemerintah, ulama, dan seluruh elemen masyarakat, ia optimistis visi mewujudkan Sulawesi Tenggara yang aman, sejahtera, dan religius dapat diwujudkan secara bersama-sama.






